Home / Usroh / ANAK, ANTARA ANUGERAH DAN AMANAH

ANAK, ANTARA ANUGERAH DAN AMANAH

Anak adalah Amanah dan Anugrah

Sudah sewajarnya setiap pasangan yang menikah mengharapkan kehadiran anak. Yang menjadi buah hati bagi kedua orang tuanya. Dengannya orang tua akan tertawa bahagia dan  terasa sejuk pandangan mata. Hilang rasa sakit yang tak terkatakan ketika ibu melahirkan, digantikan dengan perasaan bahagia tak terhingga. Juga bahagia sang ayah yang tidak pernah khawatir dengan tugas beratnya untuk mencari nafkah.

Kehadirannya mampu merubah suasana rumah tangga menjadi penuh warna. Melalui anak pula orang tua menggantungkan cita-cita dan harapannya. Mereka adalah investasi yang sangat menguntungkan dunia maupun akhirat, membanggakan dengan prestasinya dan menentramkan dengan keshalihannya.

Lihatlah betapa fasih dan lancarnya para ibu menceritakan tentang anaknya. Berapapun banyaknya, semua diingat dengan detail tanpa terlewatkan. Hingga acara yang paling heboh adalah pertemuan ibu-ibu yang masing-masing bercerita tentang kehebatan anak-anak meraka.

Para ayah tak mau kalah, senyum sumringah akan tampak di wajah jika nama anak-anak mereka disebut  dengan segenap prestasinya. Inilah kebanggaan sekaligus kebahagiaan sebagai ayah. Hilang rasa penat dan lelah karena  menafkahi  dan membiayai anak-anak ini.

Rasulullah saw pun bersabda,

مَا وُلِدَ فِي أَهْلِ بَيْتٍ غُلَامً إِلَّا أَصْبَحَ فِيْهِمْ عِزًّ لَمْ يَكُنْ ” رواه الطبراني في الأوسط

Artinya. “ Tidaklah lahir seorang anak dalam keluarga kecuali akan menjadikan kemuliaan yang sebelumnya tidak ada.( HR. Ath Thabrani)

Namun, benarkah semua orang tua membanggakan anak-anaknya? Faktanya banyak orang tua yang dibuat sedih oleh perilaku anak. Harta, tenaga, usia yang dipertaruhkan untuk membesarkan anak tak sebanding dengan hasil yang diperolehnya. Bahkan cela dan kehinaan menimpa karena polah tingkah anak-anak mereka.

Rasulullah saw, jauh hari telah mengingatkan pula dengan sabda beliau,

“إن الولد مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَحْزَنَةٌ ( رواه ابن ماجه)

Artinya: ‘Anak menjadi penyebab kebakhilan, kepengecutan, kebodohan, kesedihan ( HR. Ibnu Majah)

Penyebab kebakhilan, karena kita, para orang tua sering menahan diri untuk tidak berderma demi memenuhi kebutuhan anak-anak kita. Bahkan menolak untuk memberi pertolongan kepada orang lain hanya karena mementingkan uang saku atau jajan anak. Keinginan anak meskipun tidak penting kita dahulukan karena besarnya rasa sayang kepada anak.

Pengecut, sangat mungkin sifat ini tumbuh juga karena anak penyebabnya. Berapa banyak manusia enggan memperjuangkan kebenaran karena berat hati untuk meninggalkan anak, atau khawatir dengan kehidupan mereka, atau bahkan justru membela kemungkaran karena ingin melindungi dan menyelamatkan anak.

Anak sangat mungkin pula menjadi penyebab kebodohan orang tua . Keinginan orang tua untuk selalu memenuhi kebutuhan dan keinginan anak, menyebabkan mereka tidak punya cukup waktu untuk belajar, bahkan belajar ilmu syar’I yang wajib sekalipun. Maka betapa banyak hari ini orang-orang yang sudah lanjut usia tidak paham dengan ajaran agamanya, bahkan dalam masalah yang sangat sederhana. Usia yang dimilikinya telah dihabiskannya untuk menyenangkan hati anaknya, namun mejerumuskan dirinya dalam kebodohan terhadap agamanya.

Sumber kesedihan orang tua, ketika anak-anak yang dulu lucu dan menyenangkan berubah menjadi manusia-manusia yang memusuhi mereka, atau menjadi sumber huru hara dan petaka Karena perilaku buruk mereka. Wal ‘iyadzu billah..

Rasulullah telah memberikan kabar gembira namun juga sekaligus memberi peringatan bagi para orang tua tentang keberadaan anak dalam keluarga. Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan, juga menjadi investasi dunia dan akhirat, namun juga berpotensi untuk menjadi sumber kesengsaraan dunia dan akhirat. Kebaikan dan keburukan mereka tergantung dari apa yang  kita berikan dan ajarkan kepada mereka.

Maka pendidikan yang baik dan benar, sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk tetap menjaga fitrah mereka sebagai hamba Allah. Imam Al Ghazali mengibaratkan mendidik anak dengan membersihkan rumput dari tanaman yang mengganggu. Yakni menjaga fitrah anak agar tidak melenceng dari tauhid.Sebagian ulama’ juga mengatakan bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat, sebelum si anak itu sendiri meminta pertanggungjawaban orangtuanya. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk mendidik anak-anak sesuai fitrahnya, karena mereka adalah anugerah terindah sekaligus amanah….

 

Penulis: Ustadzah Sayyidah

 

 

Baca Juga

JANGAN BIARKAN HATI SALING MENJAUH

Tak selamanya hubungan suami-istri itu diwarnai dengan kemesraan. Satu hal yang seringkali terjadi adalah berkurangnya ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah dibuka Pendaftaran Santri Baru 2019/2020 (mulai 1 Desember 2018) !Klik di Sini
+ +