Home / Qaul dan Kisah Salaf / HADIAH TERINDAH

HADIAH TERINDAH

Umar bin Khottob Radhiyallahu ‘anhu berkata :

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إلَيْنَا مَسَاوِئَنَا

 “Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan keburukan-keburukan kami kepada kami

(Adabud Dunya wad Din, I/297)

 

Tak ada gading yang tak retak. Tidak satu pun manusia yang sempurna. Karena memang kesempurnaan hanyallah milik Allah semata. Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’arij, ayat: 19 yang artinya:Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

Ibrahim bin Umar Al-Baqa’i Rahimahullah berkata dalam kitabnya “Nuzhumud Durar”, I/378 :  “Karena manusia itu adalah tempatnya salah dan lupa”

Sehingga sangat manusiawi jika dalam kehidupan ini manusia banyak berbuat salah. Manusia meskipun ia berusaha untuk tidak memiliki kesalahan pasti ia akan bersalah juga pada saatnya. Ibarat kata sepandai-pandainya tupai melompat pasti ia akan jatuh jua.

Meskipun Allah menciptakan manusia dengan banyak kekurangan dan kelemahan, bukan berarti kita pasrah dengan keadaan. Allah maha bijaksana, Allah maha adil. Terbukti di sisi yang lain, Allah mengutus Rasul-Nya untuk membimbing dan mengingatkan umat manusia tentang mitsaq (perjanjian kuat) dengan Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya. Allah juga menurunkan kitab-Nya untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan tugas utama mereka di muka bumi ini. Yaitu taat dan beribadah kepada-Nya semata.

Bisa kita lihat pula dalam ayat yang lain di mana Allah berfirman dalam QS. Al ‘Ashr ayat 3 yang artinya:  “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat ini mengandung perintah untuk saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Begitu juga ayat-ayat yang lain yang memerintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar.

Kita masih punya sahabat. Sahabat yang sejati. Sahabat yang selalu mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana yang disampaikan oleh beliau Hasan Al Bashri Rahimahullah, “Saudara kita adalah lebih mahal bagi kami dibandingkan keluarga kami, keluarga kami mengingatkan akan urusan dunia sedangkan saudara kami senantiasa mengingatkan urusan akhirat”. (Zhahiratu dha’fil Iman, I/15)

Sahabat yang senantiasa mau menjadi cermin diri kita. Selalu menghadiahkan dan menunjukkan aib-aib dan keburukan-keburukan yang telah kita lakukan. Agar kami memperbaiki diri. Dan ia pun membantu kita untuk memperbaiki diri kita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda yang artinya, Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudara mukmin yang lain, apabila ia melihat cacat atau aib terdapat dalam diri saudaranya maka ia memperbaikinya”.

Sahabat sejati bukan yang mendukung dan membiarkan kita tenggelam dalam keburukan-keburukan kita. Yang justru akan menyengsarakan hidup kita di dunia dan akhirat. Inilah yang kadang kurang dimengerti oleh sebagian manusia. Renungkanlah apa yang disampaikan oleh Umar bin Khaththab Radhiyallahu‘anu beliau sangat bahagia, sangat gembira, bahkan mendoakan rahmat Allah bagi saudaranya yang mau menghadiahkan atau menunjukkan aib dan keburukannya kepadanya, agar ia tidak sombong dan merasa paling sempurna. Ya Allah karuniakan kepada kami saudara-saudara yang mau memberikan hadiah yang terindah kepada kami, yaitu menunjukkan aib-aib, keburukan-keburukan, dan kesalahan-kesalahan kami. Agar kami tidak sombong dan mau memperbaiki aib dan kesalahan kami sebelum berjumpa dengan-Mu. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

 

Oleh : Ibnu ‘Abdillah

 

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

In sya Alloh Pendaftaran Santri Baru 2019/2020 akan dibuka 1 Desember 2018 !Klik di Sini
+ +