Home / Usroh / Hidupkan Malam Bersama Allah

Hidupkan Malam Bersama Allah

 Shahabat mulia, Abu Hurairah pernah ditanya tentang istrinya, maka beliau menjawab, “Aku sangat mencintainya.”

Tentu setiap pasangan suami-istri juga ingin dicintai pasangannya. Tak satu pun orang yang tidak ingin dicintai pasangannya, kecuali rumah tangga yang memang bermasalah. Kalau begitu mari kita lihat kembali ke masa para shahabat, agar kita dapat mengetahui bagaimana hubungan shahabat mulia ini dengan teman hidupnya.

Abu Hurairah membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Beliau shalat pada bagian malam pertama. Hal ini dikarenakan beliau melaksanakan wasiat Rasulullah untuk shalat witir sebelum tidur. Beliau pernah berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (Rasulullah) telah berwasiat  kepadaku  dengan  tiga hal yang tidak akan pernah saya  tinggalkan  hingga  aku meninggal (yaitu): puasa  tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan  tidur setelah shalat witir.” (Mutafaqun’alaihi)

Kemudian istrinya shalat pada bagian malam yang ke dua. Dan putrinya shalat pada bagian malam ke tiga. Namun beliau juga pernah shalat pada bagian malam kedua bersama istri untuk berjamaah. Begitu pula istrinya, pernah shalat pada bagian malam pertama, namun tidak setiap malam. Demikianlah pasangan suami istri yang mulia ini melewati malam-malamnya. Tentunya, tanpa mengabaikan hak-hak pasangan.

Saat fajar menyingsing tidak ada yang terkandung dalam hati kedua suami istri yang beriman ini kecuali rasa cinta karena Allah. Hati mereka begitu bersih. Tidak ada tempat di dalam dada mereka kebencian dan buruk sangka. Sebab mereka berdua telah menghidupkan malamnya bersama Allah. Maka Allah pun memuliakan mereka dengan karunia-Nya sepanjang hari.

Mengapa shalat tahajud dapat mendatangkan kecintaan pasangan? Yang demikian disebabkan orang yang beramal shalih, melaksanankan perintah Allah dan melaksanakan amalan-amalan nafilah (sunnah) termasuk di dalamnya shalat malam akan mendatangkan kecintaan Allah. Sebagaimana diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda, Sesungguhnya  Allah ta’ala  telah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa (bertaqorrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. …” (HR. Al Bukhari).

Bahkan secara khusus, Allah mencintai dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada suami istri yang saling mengingatkan untuk shalat malam. Ketika suami bangun terlebih dahulu ia membangunkan istrinya. Dan sebaliknya, ketika istri bangun terlebih dahulu ia membangunkan suaminya. Jika pasangannya enggan untuk bangun, ia tidak segan-segan memerciki air ke wajah pasangannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Allah akan merahmati (menyayangi) kepada seorang laki-laki yang bangun malam lalu mengerjakan shalat, membangunkan istrinya lalu shalat. Apabila istrinya enggan maka ia memerciki air kewajahnya. Allah akan merahmati (menyayangi) kepada seorang wanita yang bangun malam lalu mengerjakan shalat, membangunkan suaminya lalu shalat. Apabila suaminya enggan maka ia memerciki air kewajahnya.” (HR. Abu Dawud, An Nasaa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah juga akan menjadikan para hamba-Nya yang lain untuk mencintainya. Termasuk pasangan pun juga akan semakin mencitainya. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وُدّٗا ٩٦

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Qs. Maryam: 96)

Senada dengan ayat ini, hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا ، فَأَحِبَّهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، فَيُنَادِى جِبْرِيلُ فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا ، فَأَحِبُّوهُ . فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ

 “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril; “Sesunggunya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia.” Maka Jibril pun mencintai orang tersebut, lalu Jibril menyeru kepada penghuni langit; “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah fulan” maka penduduk langit pun mencintai orang tersebut, hingga akhirnya ditetapkan bagi fulan untuk diterima di bumi.” (HR. Bukhari)

Anas bin Malik berkata:

إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا قَذَفَ حُبَّهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمَلَائِكَةِ، وَإِذَا أَبْغَضَ اللهُ عَبْدًا قَذَفَ بُغْضَهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمَلَائِكَةِ؛ ثُمَّ يَقْذَفُهُ فِيْ قُلُوْبِ الْآدِمِيِّيْنَ

“Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan meletakkan kecintaan kepadanya di hati para malaikat. Dan jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah juga akan meletakkan kebencian kepadanya di hati pada malaikat, kemudian meletakkannya di hati para manusia.” (Kanzul ‘Umal fi Sunanil Aqwal wal Af’al, XI/94)

Demikilah hendaknya setiap pasangan suami istri bila ingin selalu dicintai pasangannya. Hendaknya ia selalu menghidupkan malam-malamnya bersama Allah dengan melaksanakan shalat tahajud.

Betapa mudahnya cara membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat ini. Dicintai Allah, dicintai pasangan, dicintai para malaikat dan dicintai seluruh manusia. Hanya dua raka’at, dua raka’at di tengah malam. Dua raka’at yang dilakukan bersama, suami sebagai imam dan istri sebagai makmum. Suami berdoa, istri yang mengaminkan. Sungguh indahnya.

Tidak mengerankan jika akhirnya setan yang selalu menebar peselisihan lari sambil menahan amarah. Tidak mengherankan juga jika akhirnya malaikat pembawa ketenangan, cintai, damai, kasih dan sayang menjadi tamu yang selalu hadir di rumah bahagia Anda. Sehingga terciptalah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Wallahu a’lam bish shawwab.

 

Ditulis oleh: Yazid Abu Fida’

Baca Juga

ARTI SEBUAH KESETIAAN

Kita sering mendengar kata setia, apa sebenarnya maknanya? Kesetiaan adalah suasana hati yang tidak bisa ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!