Home / Tafsir / Isti’adzah

Isti’adzah

BerdoaPengertian isti’adzah :

Secara bahasa : أَعُوْذُ adalah pecahan (musytaq) dari kata العَوْذُ , dan ia (العَوْذُ) mempunyai dua makna [1] :

  1. Al-Iltija’ atau al-Istijaar yang bermakna meminta perlindungan.
  2. Al-iltishoq yang bermakna menempel. Contoh : أَطْيَبُ اللَحْمِ عَوْذُهُ “Daging yang paling lezat adalah yang menempel dengan tulang” [2]
      • Didasarkan pada makna yang pertama, maka makna أَعُوْذُ بِاللهِ adalah saya meminta perlindungan kepada rohmat dan penjagaan Allah.
      • Sedangkan jika didasarkan pada makna yang kedua, maka maknaأَعُوْذُ بِاللهِ adalah saya menempelkan jiwa dan diriku dengan karunia dan rohmat Allah.

Secara istilah makna أَعُوْذُ بِاللهِ adalah saya meminta perlindungan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya dari kejelekan dan kejahatan semua mahluk-Nya dari golongan syetan yang membahayakan agamaku, dan yang menghalangiku dari kebenaran. [3]

Imam al-Qurthubi berkata,”Makna “Al-Isti’adzah” dalam percakapan orang Arab adalah meminta perlindungan dan melingkar kepada sesuatu, dengan maksud agar terhindar dari sesuatu yang dibenci.”[4]

Lafadz istti’adzah

Lafadz isti’adzah ada dua, pertama, أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ العَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجِيْمِ sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah dalam QS.Fushilat : 36. Menurut Imam Nawawi bahwa lafadz “Ta’awudz” adalah أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجِيْمِ begitu juga dikatakan oleh pendapat mayoritas. Kedua, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah bahwa lafadz “Isti’adzah” adalah أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجِيْمِ , beliau berdasar pada QS.An-Nakhl : 98. ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. sedangkan Imam Ahmad lebih memilih yang pertama.[5] Wallahu a’lam bishowab

Tempat (makhal) Isti’adzah

Ada perselisihan tentang tempat Isti’adzah yang Allah memerintahkan untuk membacanya ketika Qiro’ah al-Qur’an dalam QS.An-Nakhl : 98, apakah dibaca setelah membaca al-Qur’an ataukah sebelumnya ?

  1. Menurut Abu Huroiroh dan Ibnu Sirin dan an-Nakho’i bahwa Isti’adzah dibaca setelah membaca al-Qur’an berdasarkan dhohir ayat.[6]
  2. Menurut jumhur umat baik salaf maupun kholaf bahwa Isti’adzah dibaca sebelum membaca al-Qur’an. Dan ini adalah merupakan pendapat az-Zujjaj dan Ibnu ‘Athiyah, al-Baghowi, al-Baidhowi, Ibnul ‘Arobi, Qurthubi, Zamakhsyari, Ibnu Katsir dan para ahlu tafsir yang lain.[7]
  3. Menurut al-Fakhru ar-Rozi bahwa Isti’adzah dibaca sebelum membaca al-Qur’an berdasarkan tuntutan khobar (bahwa yang akan dibaca adalah al-Qur’an). Sedangkan ia dibaca setelah membaca al-Qur’an berdasarkan dzohir al-Qur’an. Beliau mengabungkan dua dalil tersebut.[8]

Membaca Isti’adzah ketika hendak membaca al-Qur’an, ini adalah yang ditunjukkan oleh sunnah dan atsar shohabah dan juga jumhur ulama’ salaf, dan perintah untuk beristi’adzah dalam surat an-Nakhl :98 adalah sebelum membaca al-Qur’an bukan setelahnya. Dan makna dari ayat tersebut adalah “Idzaa arodta qiro’atal qur’an fasta’idz billahi minasy syaithoonir rojiim” (jika kalian hendak membaca al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk).

Dan yang seperti itu sering dipakai dalam gaya bahasa al-Qur’an, sebagaimana potongan dari firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu”.[9]

Ibnul Qoyyim berkata,”As-Sunnah dan atsar sahabat menunjukkan bahwa berta’awudz ketika hendak membaca al-Qur’an adalah pendapat jumhur umat salaf dan kholaf”.[10]

Hikmah membaca isti’adzah sebelum membaca al-Qur’an

Ketika Allah memerintahkan kepada kita untuk meminta perlindungan dari syetan yang terkutuk sebelum membaca al-Qur’an, maka tidak diragukan lagi bahwa, dibalik itu semua ada hikmah-hikmah dan faedah-faedah yang terwujud dengan membaca isti’adzah ini. Berikut beberapa hikmah-hikmah dan faedah-faedahnya yang disebutkan oleh al-Allamah Ibnul Qoyyim dalam kitabnya “Ighotsatul lahfan” jilid I, hal 109-112 :

  1. Membaca isti’adzah sebelum membaca al-Qur’an merupakan bentuk pemberitahuan bahwa yang akan dibaca adalah al-Qur’an al-Karim. Maka, apabila seseorang mendengar Isti’adzah maka ia bersiap-siap untuk mendengarkan kalam Allah. Oleh karena itu tidak disyari’atkan meminta perlindungan atau membaca isti’adzah didepan atau sebelum suatu percakapan atau ucapan selain al-Qur’an.
  2. Untuk menghancurkan bahan dan sumber penyakit yang syetan lemparkan ke dalam hati anak Adam, seperti was-was, syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak.
  3. Supaya apa yang ia peroleh dari al-Qur’an seperti petunjuk dan kebaikan tidak rusak oleh bisikan dan syubhat dari syetan.
  4. Para malaikat mendekat kepada orang yang membaca al-Qur’an untuk mendengarkan bacaannya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits panjang dari Abu Sa’id al-Khudri ra.[11]
  5. Agar intifa’ orang yang membaca al-Qur’an dengan al-Qur’an sempurna.
  6. Isti’adzah adalah termasuk suatu perkara yang urgen bagi orang yang membaca al-Qur’an.

Perlu kita ketahui bahwa musuh kita ada dua[12] :

  1. Musuh Dzohiri (yang nampak) yaitu syetan manusia. Perkara-perkara atau masalah-masalah yang ditimbulkan dari musuh ini bisa diobati dengan Sabar (as-Shobru), ramah (musona’ah), dan mudaroh, menghadapinya dengan segala kebaikan (al-Muqobalah bi al-Ihsan), dengan harapan mudah-mudahan sifat dan tabi’atnya kembali baik, dan berloyalitas kepada kita. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada kita dengan tiga ayat, yang mana tidak ada yang keempatnya yang memerintahkan tentang hal ini, yaitu : QS.Al-A’rof : 199, QS.Al-Mukminun : 96, QS.Fushilat : 34.
  2. Musuh Bathini (yang tidak nampak) yaitu syetan jin. Sedangkan musuh yang kedua ini ia tidak akan menerima keramahan (mushona’ah) dan kebaikan (Ihsan) yang kita berikan. Akan tetapi yang ia inginkan hanyalah kehancuran keturunan Adam karena begitu besar dan kerasnya permusuhannya kepada kita “Innasy syaithonaa kaana lakum ‘aduwwam mubiina”. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada kita untuk meminta perlindungan darinya kepada-Nya dalam tiga ayat : QS.Al-A’rof : 200 QS.al-Mukminun : 97 QS.Fushilat : 36.

Barangsiapa yang dibunuh oleh musuh yang nampak (Dzohiri), maka ia syahid. Sedangkan barangsiapa yang dibunuh oleh musuh yang tidak nampak (Bathini), maka ia akan menjadi lemah imannya, sesat jalannya, dan celaka kehidupan dunia dan akhiratnya, di mana syetan bisa melihat manusia sedangkan manusia tidak bisa melihatnya, maka hendaknya manusia berlindung darinya kepada yang melihat syetan sedangkan syetan tidak melihatnya yaitu Allah.

Membaca Isti’adzah dalam sholat

Para ulama’ bersepakat bahwa أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجِيْمِ tidak termasuk dalam ayat al-Qur’an. Dan mereka juga berijma’ bahwa membacanya dan mengiltizaminya diluar sholat adalah sunnah. Dan mereka berselisih pendapat tentang membaca Ta’awudz dalam sholat[13] :

  1. Ibnu Sirin, Ibrohim an-Nakho’i berpendapat bahwa membaca Ta’awudz disunahkan dalam setiap roka’at. Alasan beliau adalah merealisasikan (imtitsal) perintah Allah untuk meminta perlindungan secara umum dalam setiap bacaan.
  2. Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa membaca Ta’awudz disunahkan pada roka’at pertama saja. Alasan beliau semua bacaan sholat adalah seperti satu bacaan atau hal itu sudah mewakili.
  3. Imam malik berpendapat bahwa dalam sholat fardhu tidak boleh membaca Ta’awudz, akan tetapi Ta’awudz itu disunahkan untuk dibaca dalam sholat pada bulan romadhon saja. Wallahu a’lam bishowab.

 

[1] Begitu juga disebutkan oleh al-Fairuuz Aabaadii dalam al-Qoomuus al-muhith, Hal.428.
[2] Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dalam “Zaadul ma’ad”, jilid V.
[3] Tafsir at-Thobari, Juz I, Hal.119.
[4] Tafsir Qurthubi, Juz I, Hal.89.
[5] Al-Mughni, Juz II, Hal.146.
[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/ 14, Tafsir Baghowi V/ 42, al-Majmu’ li an-Nawawi III/ 325, at-Tafsir al-Kabir li ar-Rozi I/ 59.
[7] Ma’ani al-Qur’an wa I’robuhu milik az-Zujjaj III / 218, Tafsir Ibnu ‘Athiyah VIII/ 157, Tafsir al-Baghowi V/42.
[8] At-Tafsir al-Kabir I/ 60.
[9] QS.Al-Maidah : 6.
[10] Ighotsatul lahfan I/ 109.
[11] Dikeluarkan oleh Bukhori tentang fadhoil al-Qur’an, No.5018.
[12] Lihat dalam Hasyiyah Tafsir Ibnu ‘Athiyah hal 75, jilid I
[13] Tafsir Ibnu ‘Athiyah, jilid I, hal.74.

Baca Juga

TAFSIR BASMALAH

Makna Basmalah Basamalah adalah lafadz bismillahir rahmanir rahim. Adapun makna basmalah adalah saya memulai dengan ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!