Home / AllCategory / Jangan Remehkan Amalan Hati

Jangan Remehkan Amalan Hati

Oleh: Ust. Oemar Mita, Lc.

Di dalam penghamjagahati_dsbaan diri seorang hamba kepada Rabb-nya, ia berkewajiban untuk memberikan penghambaan dengan ketaaatan dan amalan yang dilakukan oleh anggota badanya dan hatinya. Karena ibadah adalah segala nama yang mencakup segala hal yang diridhai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan secara zhahir dan batin.

Inilah yang menjadikan kita memahami bahwa jalan penghambaan itu tidak selalu dengan amalan zhahir seperti shalat, puasa ataupun haji dan umrah. Tapi di antara jalan penghambaan ialah mencakup pula dengan amalan hati seperti ikhlas dalam ibadah, ridha terhadap takdir, sabar dalam musibah dan lain sebagainya.

Banyak manusia yang senantiasa memperhatikan amal zhahir ibadahnya tapi ia lalai melihat jendela hatinya dalam amal ketaatanya. Sehingga bisa jadi amalan zhahir rusak disebabkan amalan hatinya rusak. Sebagaimana dikisahkan dalam riwayat Muslim bahwa ada seseorang berjihad, berilmu serta bersedekah tetapi malah masuk neraka. Hal ini disebabkan amalan hatinya rusak yaitu keikhlasanya dalam beramal itu semua hilang berganti riya’.

Sebaliknya pula amalan hati apabila laksana emas dan permata karena indahnya maka akan merubah ibadah zhahir yang biasa menjadi luar biasa.

Renungkanlah hadits berikut ini sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliapun berkata:

“Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sandalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya: “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu selama tiga hari? Maka orang tersebut berkata, “Silakan”.

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :

“Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir. Hingga akhirnya ia bangun untuk shalat subuh. Abdullah bertutur: “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali: “Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku contoh, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Orang itu berkata: “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur: “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata: “Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR Ahmad 20/124 no 12697, dengan sanad yang shahih

Riwayat ini memberikan indahnya faidah bahwa ibadah itu tidak selalu terbatas dzikir dan shalat. Tetapi termasuk di antara ibadah ialah amalan hati kita. Dan sungguh amalan hati terkadang begitu dahsyat diganjar oleh Allah dengan kebaikan yang berlimpah. Maka perhatikanlah amalan zhahirmu tapi jangan engkau abaikan amalan hatimu karena ia lebih besar di sisi Allah. Serta cintailah saudara imanmu, jangan engkau mudah mengambil kehormatanya dengan begitu gampang. Barakallah fikum

 

Baca Juga

Pondasi Beton – Pembangunan Masjid Baitul Makmur

      Related

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!