Home / Tarbiyah / KETELADANAN DALAM MENDIDIK

KETELADANAN DALAM MENDIDIK

anak-cermin-orang-tua

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh sehat dan berkembang menjadi anak-anak yang sholeh sholehah, taat beragama, berbakti kepada orang tua dan berakhlaq mulia. Harapan besar orang tua kepada anaknya ini menunjukkan rasa sayangnya kepada sang buah hati. Harapan besar ini tentu tidak akan bisa datang dengan sendirinya, melainkan harus diimbangi dengan memberikan pendidikan yang baik dengan disertai keteladanan (At-Tarbiyah bi Al-Uswah Al-hasanah).

Inilah yang dilakukan Rasulullah saw dalam membangun umat sejak fase Mekkah hingga Madinah, beliau berhasil tampil sebagai figur yang menjadi panutan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga meskipun dengan segala keterbatasan dana, sarana prasarana, dan teknologi canggih beliau mampu mengubah masyarakat yang biadab menjadi beradab dan berperadaban.

Beliau tidak banyak berceramah dan berwacana. Beliau cenderung tidak suka main perintah dan larangan. Beliau juga anti caci-maki dan marah-marah ketika melihat umatnya ada yang belum sesuai dengan ajaran Al-Quran. Akan tetapi, beliau memperkaya diri dengan contoh yang baik. Beliau tidak asal mengatakan sesuatu kalau tidak bisa melaksanakannya. Beliau tidak mudah mengobral janji jika tidak bisa menepatinya. Beliau selalu menyatupadukan antara kata-kata dan perbuatan nyata. Demikian karena pada diri Rasul saw terdapat Al-Uswah Al-Hasanah sebagaimana yang tergambar di dalam firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

 

Urgensi Keteladanan

Teladan adalah bagian terpenting dalam proses pendidikan anak. Keteladanan dinilai sangat efektif dalam memengaruhi dan mengubah sikap, pola pikir dan karakter. Karena, secara psikologis, manusia itu memerlukan figur teladan yang menjadi idola atau role model. Keteladanan itu juga merupakan energi yang dahsyat dalam membentuk kepribadian dan memengaruhi perubahan sosial.

Kita tentu sering mendengar istilah “Like father, like son” atau ungkapan seperti “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, begitulah yang sering kita dengar. Sekalipun tidak seluruhnya benar, namun sebagian besar akan melihat kebenaran dari ungkapan tersebut. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kunci jawabanya sudah sangat jelas, yaitu terletak pada rule model, atau sering kita sebut dengan keteladanan. Di sinilah peranan orang tua menjadi amat penting dan menentukan warna kepribadian anak-anaknya.

Kita sering melihat, anak-anak akan memberikan respon berbeda terhadap satu peristiwa sesuai dengan contoh atau teladan yang diterimanya dalam keseharian. Misalnya, ketika melihat seorang anak menangis akibat terjatuh. Anak yang satu akan berinisiatif membantunya dan mengusap-usap kepala anak yang terjatuh, sementara anak yang lain akan berteriak- teriak memarahi anak yang menangis.

Bisa jadi kita akan terkekeh geli melihat cara mereka bicara dan melihat mereka bersikap. Namun, sadarkah kita, bahwa sesungguhnya, itu adalah cerminan dari apa yang telah kita lakukan

Menurut DR. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Pendidikan Anak Dalam Islam, “Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak”. Maka dari itu sudah selayaknya kita menjadi teladan yang baik buat anak-anak kita.

Berbicara dengan lisan amal dan tindakan nyata, itu jauh lebih bisa dipahami dari pada berbicara dengan lisan perkataan, sebab:

مَنْ لَمْ يَنْفَعْكَ لَحْظُهُ لَمْ يَنْفَعْكَ لَفْظُهُ

“siapa yang amalnya tidak dapat kau pahami, maka omongannya pun juga tidak akan dapat kau pahami” .

Sesungguhnya suara keteladanan itu jauh lebih nyaring terdengar, bahasa tindakan itu tidak memerlukan terjemahan. Qudwah hasanah yang ditampilkan oleh seorang pendidik memiliki pengaruh kuat pada usaha pembentukan sikap dan kepribadian anak-didiknya. Tanpa adanya qudwah dari seorang pendidik, al qur’an dan as-sunnah dengan segala ajarannya itu hanya menjadi goresan tinta di atas lembaran-lembaran kertas, yang tidak efek dan pengaruhnya di dalam praktek kehidupan manusia.

 

Jadilah Teladan untuk Anak-anakmu

Keteladanan orang tua menempati urutan teratas dalam membentuk karakter anak, karena kecenderungan anak yang paling menonjol adalah meniru perilaku dan kebiasaan orang tua, untuk mencari figur karakter, sementara orang tua terutama bapak dianggap sosok paling ideal untuk diikuti. Orang tua harus senantiasa mengawasi perilaku anaknya dan memberi contoh yang baik baginya.

Ibnu Qayyim berkata dalam kitabnya Fawa’id, “Sesungguhnya semua orang bisa berbicara. Namun siapa yang ucapannya selaras dengan perbuatannya maka dia beruntung dan siapa yang ucapannya tidak sesuai dengan tindakannya maka dia telah merusak harga dirinya “.

Ayah adalah motivator dan figur utama bagi keluarganya, yang sangat berpengaruh terhadap watak dan tabiat anak-anaknya. Setiap saat istri dan anak-anaknya akan melihat segala ucapan dan tingkah lakunya. Wibawa seorang bapak sebagai guru yang ideal akan ternoda di hadapan anak-anaknya bila ia hanya pandai berteori tetapi kurang bisa memberi contoh. Hal tersebut dapat merusak perilaku anak dan memicu keberaniannya untuk mengkritiknya.

Rasulullah saw bersabda;

مَثَلُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ اْلخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ

“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada anusia dan melupakan dirinya sendiri, seperti pelita yang memberi penerangan untuk manusia dan membakar dirinya sendiri” (HR. Thabrani).

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam membentuk karakter anak secara moral, spiritual dan sosial. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlaq mulia, berani, bertanggung jawab, tangguh, ikhlas dan zuhud, maka si anak juga akan tumbuh kejujurannya, terbentuk akhlaknya, terbangun keberaniannya, tangguh mentalnya, tertanam keikhlasannya serta termotivasi zuhudnya.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting, karena menjadi basis bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka, orang tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini.

 

Ada kiat-kiat yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam proses pembentukan karakter dan akhlak Islami pada anak agar menjadi pribadi teladan.

Pertama, Orang tua harus menjadi pelaku utama dalam berbuat kebaikan Menjadi teladan bagi anak berarti memberi contoh pada mereka bagaimana cara bertindak dan berperilaku baik dalam kehidupan, sehingga anak mendapat stimulan yang tepat dan benar secara langsung, tanpa harus memahami teori yang rumit terlebih dulu.

Kedua, Istiqomah dalam memberikan keteladanan. Memberikan keteladanan kepada anak itu jangan hanya pada waktu tertentu saja, tetapi harus dilakukan setiap saat, terus menerus dan dalam segala hal.

Ketiga, Hindari unsur riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain) . Keikhlasan dalam mendidik sangat diperlukan, karena keikhlasan itu menjadi cahaya yang memantul ke dalam jiwa anak, karena anak memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan orang tua. Untuk itu ketika orang tua merasa berhasil dalam medidik anak-anak, tidak semestinya memamerkan keberhasilan itu kepada orang lain tetapi cukup mensyukurinya.

Keempat, Orang tua hendaklah mengenalkan tokoh-tokoh teladan dalam Islam. Disamping menjadi teladan secara langsung dalam menjalani kehidupan , perlu kiranya mengenalkan kepada anak-anak sosok figur dalam Islam yang pantas diteladani, diantaranya dengan mendorong mereka gemar membaca sirah Nabi Muhammad saw. dan juga profil orang-orang shalih, baik dari kalangan Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, maupun orang-orang yang mengikuti jejak mereka. .

Kelima, menghargai nasihat dan kebenaran meskipun dari seorang anak kecil. Tidak jarang orang tua menggunakan aji-aji mumpung (mumpung jadi orang tua) dalam mendidik anak- anak. Dengan konsep ini menjadikan orang tua merasa selalu unggul dari anaknya, meskipun sebenarnaya dalam posisi salah. Sikap sportif adalah sikap yang bijaksana, sehingga ketika orang tua berbuat kesalahan, dia mampu menghargai nasihat, meskipun itu dari anaknya.

Keenam, Gunakan metode dialog pada anak usia remaja , Pada masa remaja anak memiliki kecenderungan untuk bebas dan egois dalan sikap. Pada usia ini anak tidak suka dikomando, maka orang tua hendaklah mengalokasikan waktu untuk berdialog dengan mereka tentang kondisi ideal yang diharapkan ada pada mereka. Suasana dialog juga harus dikondisikan sedemikian rupa agar mereka merasa nyaman, sehingga dapat mencerna nilai-nilai yang hendak ditanamkan.

Ketujuh, Hargai kemampuan anak dengan bahasa yang dapat difahaminya dan cara yang bijaksana. Sebagaimana orang dewasa anak juga ingin diakui keberadaanya, apalagi ketika mereka berprestasi. Ada baiknya bila orang tua dapat belajar menghargai prestasi anak meskipun hanya dengan memberikan pujian padanya. Pujian itu meskipun sangat sederhana tetapi sangat berarti bagi anak, sayangnya banyak dari orang tua yang lebih banyak mencela dari pada memuji Paparan di atas menunjukkan pentingnya keteladanan dalam mendidik anak, sebab orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak, terutama dalam hubungan emosionalnya.

Semoga setiap pendidik  selalu menyadari perannya dan dapat memberikan apa yang menjadi hak bagi anak didiknya termasuk hak memperoleh pendidikan dengan cara yang baik. Wallahua’lam bish shawwab.

Ditulis oleh: Ust. Ahsanul Huda

 

Baca Juga

AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG ANAK

    Ibarat masakan tanpa garam kurang lengkap rasanya bila pasangan suami isteri tak dikaruniai ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami