Home / Tsaqafah / KETIKA LALAT MEMBUNUH SANG RAJA

KETIKA LALAT MEMBUNUH SANG RAJA

Ketika Lalat membunuh Raja

Di bagian timur dan barat bumi ini, kata Ibnu Jarir Ath Thobari, ada dua maharaja yang beriman dan dua maharaja yang kafir. Sulaiman bin Dawud ‘Alaihis Salam dan Dzulqarnain; dua maharaja yang beriman. Bukhtanashr (Nebukadnezar) dan Namrud bin Kan’an; dua maharaja yang kafir. Selain mereka berempat, dalam lintasan sejarah, tidak ada kerajaan yang lebih besar.”

Dikisahkan oleh Zaid bin Aslam bahwa Namrud adalah raja yang orang-orang mendatanginya untuk mendapatkan makanan. Maka pada suatu hari, Nabi Ibrahim pun mendatangi Namrud dengan bergabung bersama mereka yang pergi untuk ‘menyambung hidup’. “Siapakah Rabb-mu?” tanya Namrud kepada setiap orang yang datang kepadanya. Dan mereka akan menjawab, “Engkau, wahai Namrud.” Tetapi ketika Nabi Ibrahim ditanya seperti itu, dengan diplomatis beliau menjawab, “Rabb-ku adalah Dia Yang Menghidupkan dan Mematikanku.”

“Anaa Uhyii wa Umiit..! Akulah yang menghidupkan dan mematikan..!” kata Namrud sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an. Kemudian, untuk membuktikan statement jumawanya itu, ia datangkan dua orang lalu membunuh salah satunya dan menyisakan satu orang dari mereka berdua untuk tetap hidup. Dengan begitu, Namrud merasa telah menghidupkan dan mematikan.

Kekonyolan macam apa ini? Tidak terima menyaksikan kekonyolan itu, dengan tegas dan cerdas, Nabi Ibrahim membungkam Namrud, “Fa innallaha ya’tii minal masyriqi fa’ti bihaa minal maghrib. Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah ia dari barat!”

Merasa tertusuk dengan jawaban itu, Namrud tidak memberi sekerat makanan pun kepada Ibrahim. Beliau kembali dengan tangan kosong, sementara keluarganya di rumah pasti menantikan sesuatu yang dapat dinikmati. Maka begitu sampai di bukit yang dipenuhi batu-batu kerikil, Ibrahim berhenti sejenak dan terpikir olehnya, “Kenapa tidak kuambil saja kerikil-kerikil ini lalu kubawa pulang, agar mereka senang saat aku datang dengan membawa sesuatu.” Sesampainya di rumah, Ibrahim yang kelelahan langsung beristirahat hingga tertidur. Adapun ‘bingkisan oleh-oleh’ yang ia bawa, ia letakkan begitu saja dan Ibrahim akan terkejut demi melihat hidangan lezat yang disajikan istrinya setelah ia terbangun. “Dari mana makanan ini?” tanya Ibrahim yang keheranan. “Dari bingkisan yang kamu bawa tadi.” Jawab istrinya singkat sehingga beliau pun menyadari bahwa Allah telah menurunkan rizki kepadanya.

Adapun nasib Namrud, setelah berkali-kali menolak malaikat yang Allah utus untuk menegurnya, agar ia beriman kepada Allah dan ia tetap menjadi raja. Lalu dengan sombongnya ia terima tantangan langit untuk mengumpulkan seluruh pasukannya. Allah kirimkan serdadu lalat yang jumlahnya tak berbilang kepada Namrud dan bala tentaranya. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, tubuh-tubuh tegap yang berisi, daging-daging yang besar lagi segar, otot-otot yang kuat dan juga kekar, menjadi santapan serdadu lalat yang juga menghisap darah setiap pasukan Namrud. Tidak tersisa dari mereka semua kecuali tulang belulang. Habis. Kelar sudah hidup mereka setelah dirubung lalat.

Namun, Allah masih menyisakan Namrud dan telah menyiapkan seekor lalat yang khusus untuk dirinya. Tetapi berbeda dengan pasukannya yang habis digerogoti, lalat untuk Namrud tidak memangsanya dari luar. Lalat itu, mencacah-cacah otak Namrud setelah masuk melalui hidung. Ia masih hidup selama 400 tahun dalam kesakitan yang luar binasa. Bayangkan, untuk mengeluarkan lalat di kepalanya, Namrud harus dipukuli dengan palu selama empat abad! Padahal, sebelumnya, ia merupakan seorang maharaja yang hidup nyaman dalam kemewahan selama 400 tahun. Gegara menantang Allah, dalam durasi yang sama, ia harus hidup merana sebagai makhluk yang fana.

Menutup kisah tragis ini, Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkomentar tentang Namrud, “Ialah orang yang membangun istana begitu tinggi menjulang langit. Lalu Allah hancurkan pondasi-pondasinya dan dirinyalah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya; “Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan tipu daya, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari pondasinya, lalu atap rumah itu jatuh menimpa mereka dari atas, dan siksa itu datang dari arah yang tidak mereka sadari.” (Q.S. An Nal: 26). Nas’alullaha al ‘Aafiyah wa na’udzu billahi min dzaalik (Kami memohon kepada Allah  keselamatan dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu -perbuatan Namrud-).

 

Penulis: M. Faishal Fadhli

Editor    : Yazid Abu Fida’

 

Baca Juga

ISLAM MEMANUSIAKAN JAWA 

Jawa pra Islam Sebelum Islam hadir mewarnai bumi khatulistiwa ini, Nusantara wa bil khusus tanah ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah dibuka Pendaftaran Santri Baru 2019/2020 (mulai 1 Desember 2018) !Klik di Sini
+ +