Home / Opini / Ketua NU Melecehkan Sunnah, Antara Marah dan Syukur

Ketua NU Melecehkan Sunnah, Antara Marah dan Syukur

Said Aqil

Dia alumni sebuah kampus bergengsi di Saudi Arabia,sebuah negara yang dikenal sebagai tempat kelahiran agama yang mulia ini, Islam. Doktoral dalam kajian Ushuluddin dari sebuah negara yang menjunjung tinggi akhlak Islam. Kajian dalam desertasi doktoralnya sangat baik, yaitu tentang mahhaj salaf dalam menyikapi tasawwuf. Itulah sosok Sa’id Aqil Siraj. Alumni Jami’ah Ummul Quro, Saudi Arabia.

Tokoh yang kini untuk kedua kalinya terpilih sebagai ketua Ormas Islam terbesar di Indonesia, menjadi fenomenal. Dimana-mana menjadi buah bibir, tidak sekedar dalam negeri, orang-orang luar negeri pun tersentak dengan aksinya beberapa waktu lalu.

Sayangnya, Dia fenomenal bukan karena perbuatan baik, layaknya seorang kiyai panutan. Dia disebut-sebut dalam banyak majelis, bukan karena pembelaannya terhadap Islam, sebagaimana umumnya para doktor syari’ah. Ia menjadi rising star di dunia maya bukan juga karena kesungguhannya menegakkan hukum Islam di bumi pertiwi ini, sebagaimana pendahulunya, K.H Hasyim Asy’ariy yang dengan tegas di hadapan para tokoh negeri ini, saat sidang BPUPK, menginginkan negara ini sebagai negara Islam.

Tapi ia fenomenal karena ucapannya yang diyakini sebagai penistaan terhadap sunnah rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam rekaman audio yang beredar di Youtube, Said Aqil mengatakan bahwa orang yang berjenggot mengurangi kecerdasan.“Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi syaraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak, ketarik oleh, untuk memanjangkan jenggot,” ujarnya.

Dia pun membeberkan contoh tokoh-tokoh liberal yang dianggap cerdas karena tidak berjenggot.“Coba lihat, Gus Dur tidak berjenggot, Nurcholis Majid tidak berjenggot, Pak Quraish Syihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas ngga ada yang berjenggot itu,” ungkapnya.

Tak tanggung-tanggung, Dia menyebut orang berjengot sebagai orang yang goblok dan emosional. Direkaman audio di Youtube, said Aqil menyebut jenggot mengurangi kecerdasan seseorang. Selain itu, Said Aqil juga menyebut orang yang berjenggot adalah orang yang goblok. Kemudian, semakin bertambah sesuai panjang jenggotnya.

“Tapi, kalau berjenggot emosinya saja yang meledak-ledak, geger otaknya. Karena syaraf untuk mensupport otak supaya cerdas, ketarik oleh jenggot itu. Semakin panjang, semakin goblok!” pungkas Said Aqil.

Setelah kritikan keras terhadap pernyataannya, Said mengelak bahwa itu penghinaan. Menurut dia, lontarannya mengenai jenggot hanya guyon atau bercanda.”Itu kan guyon saja. Masalah jenggot itu bercanda,” ujar Said kepada VIVA.co.id di kantor PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menanggapi kelakuan Said ini, KH. Zuhrul Anam Hisyam atau Gus Anam pengasuh Pondok Pesantren Leler Banyumas Jawa Tengah. Gus Anam menjawabnya dengan gubahan syi’ir arab;

أئمة الهدى ارباب اللحية # من مالك حتى ابي حنيفة

واحمد والشافعي اﻻجل # هذا خطاب والله لذو خلل

فسعيد وفلان واخرون # كل اؤلئك همو المداهنون

اعجبهم تصفيق ارباب الهوى # صريح السنة خذ واترك السوى

Para imam pembawa petunjuk mereka mempunyai jenggot # 
Dari Imam Malik sampai Imam Abi Hanifah

Dan Imam Ahmad serta Imam Syafi’i yang agung #
Perkataan ini (Said Agil Siraj) demi Allah mempunyai banyak cacat

Adapun Said (SAS) dan seseorang yang lain telah melecehkan (peserta yang tepok tangan) #
Mereka semua adalah orang -orang yang meremehkan

Sungguh mengherankan mereka bertepuk tangan karena menuruti hawa nafsu mereka #
Ambillah jalan sunnah yang telah jelas dan tinggalkanlah yang melenceng dari kebenaran.

Said Aqil juga, menuduh malaikat belum mendatangi kuburan Gus Dur. Karena, katanya, kuburan Gus Dur belum sepi dari pengunjung. Dia juga meremehkan sunnah merapatkan shof  ketika shalat. Dia anggap itu sebagai ciri wahabi.

Dia mengatakan diantara ciri wahabi adalah berpendapat, harus merapatkan kaki saat shalat berjama’ah. “Kakinya harus ketemu satu sama lain, ngga boleh ada ruang antar kaki, kenapa? Nanti iblis di situ katanya tempatnya. Kalau saya Alhamdulillah, iblis bisa ikut shalat,” kata Said Aqil dalam siaran stasiun TV9 yang diunggah di Youtube pada 8 Juni 2015, pada menit 1:28:19,  disambut dengan gelak tawa.

Melecehkan Sunnah

Bukan sekedar hina ditinjau dari sisi adab, dan kultur masyarakat timur yang hormat pada agama, tetapi yang paling berbahaya, apa yang dilakukan oleh Said ini merupakan bentuk pelecehan terhadap agama. Ini yang ditegaskan oleh Ustadz K.H Farid Ahmad Oqbah dalam suatu kesempatan chat dengan penulis, via WhatsApp.

Tanggapan yang sama disampaikan oleh Ustadz Abdurrachim Ba’asyir dalam wawancaranya dengan kiblat.net. “Saran saya kepada Said Aqil, pertama bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena, Dia sudah mempersenda guraukan syariat jenggot,” Tegas Aggota Majelis Syariah Jamaah Anshar Syariah kepada kiblat.net, pada Ahad (13/9) di Jakarta.

Dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (Qs. At-Taubah: 65-66)

Tentang ayat ini, Imam alQodhi Abu Bakar bin al-Arabiy berkata, “Orang yang mengolok-olok ketiga hal itu, tidak lepas dari dua kondisi; serius dan bergurau. Kedua keadaan ini sama saja, yaitu sama-sama kekufuran. Karena bergurau dengan kekufuran adalah kekufuran juga. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan umat/ulama tentang ini.”  (tafsir al-Qurthubi, 8/199)

Dalam Fatwa Nomor (5044), Team Fatwa negara tempat Said Aqil Siroj menyelesaikan S2 dan S3 nya di bidang ushuluddin disebutkan:

Pertanyaan: Apa hukum syariat atas orang yang menghina Sunnah Nabi kita Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam seperti menghina jenggot atau orangnya, karena ia memiliki jenggot lantas memanggilnya seraya mengejek: “Hai Jenggot!”. Kami memohon penjelasan dari Anda hukum orang yang mengatakan hal itu.

Jawaban: Menghina jenggot adalah kemungkaran besar, apabila maksud orang yang mengatakan: “Hai Jenggot!” untuk mengejek, maka itu termasuk kafir, dan apabila maksudnya untuk memperkenalkan, maka bukan termasuk kafir, dan sepatutnya ia tidak memanggilnya begitu, berdasarkan firman Allah `Azza wa Jalla:  Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”(65) Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua Komite: Abdurrazzaq `Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghadyan

Anggota : Abdullah bin Qu’ud

Kenapa Masih Dipilih?

Sebenarnya, perkataan maupun perbuatan Said Aqil yang menyakitkan Islam dan umat Islam, tidak sekedar itu. Saat ia memimpin NU di periode sebelumnya, ia memanfaatkan nama NU untuk mendiskreditkan siapa saja yang menghalangi aliran sesat di Indonesia.

Dalam sebuah ceramahnya, Said mengatakan situs teroris jauh lebih berbahaya dari situs porno. Ia juga menuduh orang-orang yang tidak mau terlibat dalam ritual tahlilan sebagai aliran bermasalah, anti negara.

“Walhasil nilai-nilai Pancasila ini ada di dalam tahlilan,” ujar Said. Ia melanjutkan, “Pokoknya yang tahlilan mantap sekali Pancasilanya. Kalau anti tahlilan maka kita ragukan Pancasilanya,” kata Said, sebagaimana dilansir Hidayatullah.com, pada Jum’at, 28 Agustus 2015 – 06:15 WIB.

Tentu saja, tuduhan ini dialamatkan kepada mayoritas umat Islam Indonesia. Muhammadiyah, Persis, DDI, MTA, Wahdah, dan al-Irsyad, adalah diantara ormas Islam yang tidak biasa dengan ritual tahilal. Ada yang menilai, tuduhan Said ini bermakna memecah belah kesatuan umat, ia hendak menyibukkan umat dengan perkara-perkara furu’ sehingga umat lalai dari persatuan menghadapi musuh besar mereka seperti Yahudi, Nashrani dan Syi’ah.

Said juga termasuk aktor utama dibalik munculnya Islam Nusantara. Sebuah sekte sesat yang mencoba menjauhkan ummat dari Islam. Sebab, Islam itu berasal dari Arab, bahasa al-Qur’an pun bahasa Arab. Dengan pelan-pelan Islam Nusantara hendak menjauhkan ummat dari Islam.

Sikap dan pernyataan Said yang seringkali melecehkan Islam dan umat Islam inilah yang membuat beberapa kiyai menyesalkan atas terpilihnya ia sebagai ketua PBNU. Mereka pun mengusulkan untuk melakukan  muktamar ulang untuk memilih ketua NU yang betul-betul memperjuangkan khittoh NU. Salah satu tokoh yang mengusulkan ini adalah mantan ketua Tanfidziyyah PBNU era 1999-2000,KH. Hasyim Muzadi.

Di kediamannya, Jalan Cengger Ayam, Kota Malang, Kamis, 6 Agustus 2015, mantan Ketua Umum PBNU dua periode ini mengatakan kepada portal tempo.co, “PWNU dan PCNU memiliki kewajiban mengadakan muktamar ulang sesuai konstitusi,” katanya.

Melihat gelagat Said Aqil yang kurang menguntungkan bagi NU dan tidak bersahabat dengan masyarakat muslim lainnya ini, perlu kiranya tokoh-tokoh NU, mempertimbangkan kembali usulan KH. Hasyim Muzadi, untuk melakukan muktamar ulang.

Kita Harus Bersyukur?

Melihat kelakuan Said yang kurang simpati terhadap sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wa sallam dan terhadap umat Islam lain yang berbeda pendapat dengannya, menyebarkan kalimat-kalimat yang bernada propokatif, mengolok-olok sunnah ini, saya jadi teringat tulisan imam Ibnu Jauziy dalam bukunya ‘Akhbãrul Hamqó wal mughfiliin’ (Kisah orang-orang bodoh dan lalai)-. Di mukoddimah bukunya itu, imam al-Jauziy menjelaskan salah satu alasan kenapa beliau mengumpulkan kisah orang-orang bodoh, yaitu agar kita yang diberi kecerdasan dan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bersyukur atas karunia kecerdasan serta hidayah ini.

Dalam bukunya tersebut, imam Ibnu al-Jauziy mengisahkan, suatu ketika di majelis sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, ada seseorang yang kalau bicara selalu salah, dan tidak merasa salah, ia membuat ribut majelis tersebut. Lalu Ibnu Abbas menoleh ke budaknya, kemudian membebaskannya.

Orang dungu itu kaget bukan main. Lalu ia bertanya, “Rasa syukur atas apa yang membuat Anda membebaskan budak Anda ini.?” Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak menciptakan diriku seperti dirimu (yang dungu).”

Saya menduga, jika SaidAqil Siroj hidup di masa imam Ibnu Jauziy, niscaya Ibnu Jauziy memasukkannya ke dalam bukunya ini. Syukur Alhamdulillah, Allah memberi kecerdasan berpikir, bertindak, dan berkata kepada kita semua. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada Said Aqil Siroj.*(Mas’ud Izzul Mujahid)

Baca Juga

Tanggapan Resmi Darusy Syahadah Terhadap Tuduhan BNPT

Dalam pemberitaan Jawa Pos edisi Selasa 2 Februari 2016, disebutkan informasi dari BNPT bahwa diantara ...

2 komentar

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!