Home / Sejarah / Manfaat Belajar Sejarah

Manfaat Belajar Sejarah

SejarahKajian sejarah mempunyai fungsi yang sangat fundamental yang antara lain sebagai berikut;

Pertama; Sejarah Sebagai Cakrawala Intelektualitas Sejarah sangat penting, karena ia akan menanamkan sikap intelektual yang tinggi. Dengan mempelajari sejarah seseorang akan tumbuh kesadarannya bahwa interaksi antar manusia tidak pernah berlangsung secara sederhana, ia akan sadar proses sosial merupakan kompleksitas masalah yang sangat besar dan bahwa apa yang dilakukan manusia sering tak terduga dan tidak dapat dipahami. Pembelajaran sejarah dapat mengembangkan kemampuan manusia untuk memformulasikan penilaian yang obyektif, mempertimbangkan setiap bukti dengan penuh kehati-hatian, dan menganalisis bukti-bukti yang dikumpulkannya secara tepat.

Dalam bidang intelektual, pembelajaran sejarah dapat melatih seseorang agar akurat saat menyusun pemahaman yang komprehensif serta menuliskannya, mempertimbangkan bukti-bukti, memisahkan hal-hal yang sepele dari yang penting dan membedakan antara propaganda dan kebenaran.

Kedua; Sejarah Sebagai Gambaran Tentang Konsep Waktu, Ruang dan Masyarakat. Sejarah akan memperlihatkan konsep waktu, ruang dan masyarakat, serta kaitan antara masa sekarang dan masa lampau, antara wilayah lokal dan wilayah lain yang jauh letaknya, antara kehidupan perseorangan dan kehidupan nasional, kehidupan dan kebudayaan masyarakat lain di mana pun dalam ruang dan waktu. Sejarah merupakan jaringan yang menyatukan setiap orang ke dalam kelompok yang lebih besar. Berbagai peristiwa yang terjadi saat ini merupakan hasil peristiwa pada masa sebelumnya. Tanpa memahami apa yang menjadi latar belakangnya, berbagai peristiwa yang berkembang saat ini akan tampak membingungkan untuk dipahami. Untuk memperoleh pemahaman yang tepat tentang peristiwa yang sedang berlangsung, diperlukan pemahaman tentang berbagai peristiwa pada masa lampau yang menghasilkan kondisi sekarang ini.

Semua pengetahuan, apa pun namanya, sebetulnya merupakan laporan dan pemaknaan terhadap kejadian di masa lampau. Kehidupan yang melulu di masa sekarang akan membuat kita tidak tahu apa-apa. Bahasa, tradisi dan berbagai kebiasaan yang saat ini ada hanya dapat dipahami melalui studi tentang pertumbuhan dan perkembangannya dalam ruang dan waktu. Konflik dan perseteruan antar Negara juga hanya dapat dipahami melalui sudut pandang sejarah politik, ekonomi dan sosial.

Konsep tentang waktu, ruang dan masyarakat sangat penting dalam kaitannya dengan masa sekarang ini. Tanpa konsep-konsep tersebut orang akan tersesat seperti pemburu yang tersesat di tengah hutan belantara. Dia tahu ada di mana, tetapi dia tidak tahu hubungan antara tempat dia berada sekarang dan daerah yang telah dikenalnya. Dalam hal ini sejarah dapat berperan sebagai kompas yang memandu masyarakat menuju masa depannya.

Ketiga; Sejarah Sebagai Analisa Orientasi Masa Depan. Sejarah adalah guru kehidupan. Mewarisi sejarah adalah kemampuan menghidupkan kembali pengalaman orang lain (reliving the experience of other people). Pengalaman masa lalu memberikan hikmah kebijaksanaan pada ruang kehidupan masa kini dan masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara “mengakrabi” para pelaku sejarah lewat biografinya, pemikirannya dan kiprahnya. Tiru pola pikir, sikap dan tindaknya serta modifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi kekinian, maka kita akan menemukan hikmah kebijaksanaan dalam mengarungi hidup dan kehidupan, kini dan yang akan datang.

Sejarah kemanusiaan merupakan gudang pengalaman manusia baik yang berhasil maupun yang gagal. Karenanya, bagi mereka yang ingin mengadakan perubahan sosial di masyarakatnya dan umatnya harus memahami sejarah perjalanan manusia, agar dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan fatal. Sebab sejarah merupakan guru terpenting dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, darinya para pemikir membuat teori-teori dan persepsi mereka tentang perjalanaan manusia serta mengambil pelajaran berharga.

Alasan inilah yang menjadikan Hasan al-Banna sangat konsen mengkaji sejarah secara mendalam. Ia menyatakan dalam risalahnya.

“Jika anda mengkaji kembali sejarah kebangkita berbagai bangsa, baik barat mauupun timur, dahulu maupun sekarang, anda akan menjumpai kenyataan bahwa para pelopor kebangkitan dapat menuai sukses karena memiliki manhaj tertentu yang menjadi acuan dalam kerja mereka. Kaji ulanglah sejarah berbagai organisasi dan bangsa, anda akan mengetahui dengan jelas bahwa apa yang saya katakana ini merupakan kunci keberhasilan dalam setiap kebangkitan. Jika nada layangkan ingatan pada sejarah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam dan pada masa-masa yang telah berlalu, lalu nada membuat perbandingan antara tegaknya daulah abbasiyah di timur dan kebngkitan Negara-negara modern di Eropa; mulai dari Perancis, Rusia, serta Turki, baik pada periode pertama yaitu masa penyatuan kelompok-kelompok kecil dan masa pendirian pemerintahan, atau periode ini, yaitu masa pemebentukan dasar-dasar Negara dan penyebaran pandangan, niscaya nada akan melihat bahwa semua itu tunduk pada manhaj yang telah jelas langkah-langkahnya untuk menuju sebuah hasil yang telah diperhitungkan yang menjadi orientasi kerja umat.”

Keempat; Sejarah Sebagai Usaha Memahami Agama (Din). Agama Islam –juga setiap sistem kepercayaan lainnya- selalu menjelaskan akan kemutlakan ajarannya, sekurangnya berkenaan dengan pokok-pokok (ushûl) ajarannya. Sebab hanya dalam kemutlakannya itu agama Islam berfungsi sebagai pegangan dan tuntunan hidup yang memerlukan kadar kepastian yang tinggi, dan memberi kepastian itulah fungsi pegangan atau tuntunan.

Walaupun begitu, pada waktu yang sama Islam juga mengajarkan tentang amal perbuatan praktis, dan itu berarti Islam mengandung unsur-unsur yang berbeda dalamlingkungan daya dan kemampuan manusia untuk melaksanakannya. Sekarang, “daya dan kemampuan manusia” dengan sendirinya bernilai “manusiawi”, karena ia berada pada diri manusia itu sendiri. Dan agar suatu ajaran (hukum Islam) berada dalam daya dan kemampuan manusia untuk melaksanakannya –sebab jika tidak demikian, keberadaan suatu hukum menjadi absurd, manusia harus membawanya ke dalam dirinya, ke dalam lingkaran yang menjadi batas kemampuannya dan inilah pemahaman.

Jadi jelas, agar seseorang mengetahui batas lingkaran daya dan  kemampuannya dalam menjalankan kewajiban hukum Islam perlu adanya pemahaman akan realitas sosial dan historis yang berkembang di wilayahnya, agar selalu selaras dengan semangat kehidupan dan lebih bijaksana dalam mengaplikasikannya.

Kita percaya bahwa sejarah bukan hanya cerita tentang serpihan peristiwa masa lalu, namun rangkaian kehidupan umat manusia itu juga memberikan pelajaran tak terperi pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Bila al-Qur’an banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu, dan hadits pun hanyak merekam beragam peristiwa penting dalam perjuangan Islam, maka semua itu cukup menjadi landasan bagi kita untuk memberikan porsi kajian yang besar pada sîrah, lebih-lebih sîrah nabawiyah.

Maka menyadari bahwa nenek moyang kita, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan para sahabatnya merupakan umat yang besar adalah kekayaan kita. Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan aset kebangkitan umat Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad dan perjuangan mereka dalam membangun Islam adalah modal perjuangan umat Islam yang tiada ternilai harganya.

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami