Home / Tarbiyyah / Membina Akhlak Sebelum Mengajari Ilmu

Membina Akhlak Sebelum Mengajari Ilmu

Salah satu problem yang dihadapi oleh dunia pendidikan dewasa ini adalah krisis akhlak. Sekolah dan perguruan tinggi memang mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa dan mahasiswa. Namun sekolah dan perguruan tinggi tidak mampu membangun dan membina akhlak mereka. Meskipun mereka telah mencetuskan program pendidikan karakter. Program tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Walau menyandang predikat orang terpelajar, akhlak banyak siswa dan mahasiswa belum mencerminkan akhlak yang mulia. Bahkan mayoritas mereka yang berusia puber dan remaja menjelang dewasa tersebut terkesan dekat dengan kebobrokan akhlak. Pergaulan bebas dengan lawan jenis, narkoba, dugem, tawuran pelajar dan tawuran mahasiswa, adalah sebagian buktinya. Belum lagi jika ditilik dari kacamata syariat, banyak sekali di antara mereka yang tidak mengenal ajaran syariat Islam, apalagi mengerjakan perintah-perintah syariat dan menjauhi larangan-larangannya secara konskuen.

Demikianlah sekilas gambaran kerusakan akhlak pada diri mayoritas siswa dan mahasiswa hasil didikan lembaga-lembaga pendidikan berbasis nasionalisme dan sekulerisme.

Apakah kerusakan akhlak hanya menimpa out put lembaga-lembaga pendidikan berbasis nasionalisme dan sekulerisme? Ternyata tidak. Pendidikan-pendidikan non formal berbasis keagamaan pun pada kenyataannya juga menghasilkan tidak sedikit orang-orang yang “berilmu”, namun kering dari akhlak-akhlak terpuji.

Sekedar contoh, banyak kalangan pemuda dan pemudi yang mulai tekun belajar agama secara otodidak. Di zaman internet ini, google telah menjadi syaikh bagi banyak pemuda dan pemudi seperti mereka. Mereka membuka-buka situs-situs keislaman, menyimak dan mengikuti beragam artikel dan opini yang berkaitan erat dengan masalah-masalah keislaman.

Mereka belajar Islam dari media online, dengan niat baik mendalami ajaran Islam. Namun mayoritas mereka belum memiliki dasar-dasar pijakan yang kuat dari aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan ilmu-ilmu alat seperti bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, dan Balaghah), ilmu ushul fiqih, ilmu hadits, dan ilmu tafsir. Akibatnya mereka tidak mampu memilah-milih dan menyaring; mana artikel-artikel yang “lurus” dan mana artikel-artikel yang “sesat”.

Di sisi lain, belajar Islam secara online tanpa bimbingan seorang guru yang baik seperti itu juga berdampak pada munculnya orang-orang yang muta’aalim. Mereka adalah para pelajar awam dan pelajar pemula dalam bidang ilmu-ilmu syariat, namun sudah lancang menonjolkan dirinya bak seorang ulama yang mendalam ilmu syar’inya. Seringkali dengan gegabah dan ngawur, mereka mengeluarkan vonis-vonis ‘bid’ah, syirik, musyrik, kafir, murtad, sesat, halal, haram’ dan seterusnya terhadap perkara-perkara tertentu dan individu-individu tertentu.

Sikap dan ucapan yang kasar, tanpa kasih sayang kepada sesama umat, nampak jelas dalam perilaku keseharian para muta’aalim seperti itu. Sedikit ilmu yang mereka miliki tidak diimbangi dengan keluhuran akhlak keseharian mereka.

Padahal seandainya perkara-perkara tersebut diajukan kepada para ulama besar, niscaya mereka akan sangat berhati-hati dalam mengkaji dan memberikan jawaban. Boleh jadi mereka akan menahan diri dari memberikan fatwa atau jawaban, mengingat rumit dan beratnya persoalan-persoalan yang diajukan kepada mereka tersebut.

Baik kebobrokan akhlak out put lembaga-lembaga pendidikan sekuler maupun out put pembelajaran otodidak tanpa bimbingan ulama rabbani, keduanya merupakan contoh bentuk dampak buruk dari transfer ilmu yang tidak didahului oleh pembangunan pondasi akhlak yang mulia.

Jika kita menengok kehidupan generasi salaf, kita akan menemukan fakta bahwa mereka lebih dahulu membangun pondasi akhlak-akhlak mulia sebelum melakukan proses transfer ilmu. Akhlak-akhlak mulia diperoleh oleh anak didik melalui pergaulan erat dengan para ulama rabbani. Para ulama rabbani-lah yang memberikan suri tauladan langsung lewat perilaku keseharian mereka. Lantas anak-anak didik melihat, merekam, dan menirunya sampai menjadi akhlak keseharian mereka pula.

Saat seorang anak didik mendatangi seorang ulama rabbani untuk belajar ilmu agama, maka hal pertama yang ia saksikan dan ia pelajari adalah akhlak ulama tersebut. Dari amal keseharian ulama itulah si anak didik belajar tentang akhlak ikhlas, sabar, tawadhu’, menjaga lisan, menjaga shalat lima waktu secara berjama’ah, dan seterusnya. Melihat, mengamati, merekam, dan mencontoh akhlak para ulama secara langsung jauh lebih membekas dalam jiwa anak didik, daripada taushiyah tentang akhlak mulia yang tidak ada contoh prakteknya dalam akhlak keseharian seorang guru.

Al-Imam Al-Qadhi Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani Asy-Syafi’i (wafat tahun 733 H) dalam bukunya Tadzkiratu As-Saami’ wal Mutakallim fi Adab Al-‘Aalim wal Muta’allim menyebutkan sejumlah kutipan dari para ulama salaf tentang pentingnya penanaman akhlak sebelum proses transfer ilmu. Berikut ini sebagiannya.

Imam Ibnu Sirin berkata:

كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ

“Adalah mereka (generasi sahabat dan tabi’in) mempelajari perilaku keseharian sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَخْرُجُ فِي أَدَبٍ يَكْسِبُهُ السِّنِينَ ثُمَّ السِّنِينَ

“Dahulu (generasi sahabat dan tabi’in) untuk menguasai satu adab saja, seseorang terkadang keluar (belajar) selama bertahun-tahun.”

Imam Habib bin Syahid Al-Bashri (wafat tahun 145 H) berpesan kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ, اِصْحَبِ اْلفُقَهَاءَ وَ الْعُلَمَاءَ وَ تَعَلَّمْ مِنْهُمْ وَ خُذْ مِنْ أَدَبِهِمْ, فَإِنَّ ذَلِكَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ

“Wahai anakku, bergaul-lah dengan para fuqaha’ dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambilah adab dari mereka, karena hal itu lebih aku sukai daripada engkau belajar banyak hadits.”

Imam Makhlad bin Husain al-Uzdi (wafat tahun 191 H) berkata kepada Imam Abdullah bin Mubarak:

نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ

“Kita ini lebih membutuhkan banyak adab, daripada kebutuhan kita terhadap banyak hadits.”

Seorang ulama salaf lainnya berpesan kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ, لَأَنْ تَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ اْلأَدَبِ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ تَتَعَلَّمَ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ

“Wahai anakku, engkau belajar satu bab adab itu lebih aku sukai daripada engkau belajar 70 bab ilmu.”

Inilah sebagian kutipan yang menggambarkan kesungguhan para wali murid dan ulama zaman salaf dalam membangun pondasi akhlak anak-anak mereka, sebelum melakukan proses transfer ilmu-ilmu agama.

Tradisi generasi salaf ini mencontoh akhlak keseharian Rasulullah SAW. Dalam surat Al-Qalam yang termasuk surat-surat yang pertama kali turun di Makkah, Allah SWT telah menegaskan keteladanan akhlak beliau. Hal itu mengisyaratkan bahwa pembinaan akhlak mulia berjalan seiring sejalan dengan pembangunan pondasi akidah yang lurus. Allah SWT berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang mulia. (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Wallahu a’lam bish-shawab. (Ust. Aslam Abu Ammar)

Baca Juga

ANAK SHALIH, SIAPA DULU BAPAKNYA??

Rasanya tidak ada satupun orang tua di dunia ini yang tak ingin dikaruniai anak-anak yang ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!