Home / Tarbiyah / Mendidik dengan Manhaj Rabbani

Mendidik dengan Manhaj Rabbani

Mendidik dengan Manhaj Rabbani

Kalau kita ingin mengetahui potret pendidikan ideal maka hendaknya melihat pendidikan Rasulullah kepada para shahabatnya. Beliau telah berhasil mendidik para shahabat sehingga menjadi generasi yang unggul. Generasi yang kuat aqidahnya, mulia akhlaknya, lurus pemahamannya, kuat fisik dan kepribadiannya. Rasulullah pun menyebut mereka sebaik-baik generasi. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah, Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-sebaik manusia adalah masaku (shahabat), kemudian setelah mereka (tabi’in) kemudian setelah mereka (tabi’ tabi’in).” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abbas berkata ketika mensifati generasi shahabat:

كَانُوْا عَلَى أَحْسَنِ طَرِيْقَةٍ وَأَقْصَدِ هِدَايَةٍ، مَعْدَنُ الْعِلْمِ وَكْنزُ الْإِيْمَانِ، وَجُنْدُ الرَّحْمَنِ.

Mereka berada di atas jalan yang paling baik dan petunjuk yang paling lurus. Mereka adalah gudangnya ilmu dan iman, dan mereka adalah tentara Ar Rahman.”

Shahabat Abdullah bin Mas’ud juga berkata, “Barang siapa di antara kalian mengambil suri tauladan, hendaklah ia mengambil suri tauladan dari  orang-orang yang sudah mati, karena orang yang masih hidup tidak terjamin selamat dari fitnah. Mereka (orang-orang yang sudah mati) adalah para shahabat Muhammad. Mereka adalah umat Islam yang paling utama, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling  sedikit bebannya (tidak memberatkan orang lain). Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi penolong nabi-Nya dan penegak dien-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah semaksimal mungkin dengan akhlak dan jalan hidup mereka, karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Al Baghawi, Ma’alimu Tanzil 2/453)

Itulah generasi unggul. Generasi yang lahir dari didikan sang Murabbi (pendidik) yang hebat. Sehingga apabila kita menginginkan pendidikan yang baik hendaknya kita mencontoh Rasulullah dalam mendidik para shahabatnya. Karena telah terbukti melahirkan generasi yang paling baik di antara umat manusia. Kemudian bagaimana manhaj (metode) beliau dalam mendidik mereka?

Metode Pendidikan Rasulullah

Di antara metode pendidikan yang beliau terapkan adalah mendidik para shahabat dengan manhaj Rabbani.  Karakter rabbani ini memiliki pengertian bahwa sumbernya adalah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Pendidikan yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Bukan pendidikan yang bersumber buah pikiran dan hawa nafsu manusia.

Manhaj rabbani mengantarkan manusia untuk melakukan suatu amal  dengan niat yang benar dan mengharap  ridha Allah. Pendidikan yang menghubungkan kehidupan seorang hamba dengan Rabb nya, misalnya  keimanan, peribadahan, cinta kepada Allah, berahlak yang baik. Sifat rabbani ini selalu mengaitkan rabb  yaitu, Allah SWT , di setiap lini Tarbiyahnya.   Allah berfirman:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ١٦٤

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah

mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan

kepada  mereka  ayat-ayat  Allah,  membersihkan  (jiwa)  mereka,  dan  mengajarkan  kepada

mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka

adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali ‘Imran : 164)

Adapun yang dimaksud dengan Al Kitab dalam tersebut adalah Al Qur’an, sedangkan  Al Hikmah adalah As Sunnah. Sebagaimana Ibnu Jarir Ath Thabari menjelaskan, “Dan  mengajarkan  kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” yaitu mengajarkan kepada mereka (orang-orang beriman) kitab Allah yang turun kepada mereka, menjelaskan takwil dan makna-maknanya. Dan hikmah adalah sunnah yang diperintahkan oleh Allah kepada orang-orang mukmin melalui lisan Rasulullah dan penjelasan beliau kepada mereka.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, VII/369)

Dalam ayat di atas jelas bahwa Rasulullah Saw mendidik para shahabatnya dengan  Al Qur’an dan As Sunnah. Maka Beliau pun marah ketika melihat lembaran kitab Taurat ada di tangan Umar. Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya Musa hidup di tengah-tengah kalian, maka tidak halal baginya  (mengikuti Taurat), melainkan ia harus mengikutiku”.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan :

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِى لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّى مِنَ الأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّين

“Demi Dzat yang  jiwa Muhammad berada ditangan-Nya. Seandainya Musa berada di antara  kalian,  kemudian  kamu  mengikutinya,  pasti  kalian  akan  sesat.   Ketahuilah

sesungguhnya kamu adalah bagianku di antara umat-umat yang lain. Dan aku adalah bagian

kalian diantara nabi-nabi yang lain”.

Dengan manhaj inilah beliau mendidik para shahabatnya. Yaitu mendidik mereka dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Manhaj ini sekaligus menjadi manhaj dalam dienul Islam untuk mewujudkan keadilan. Maka  hendaknya  para pendidik  betul-betul  memperhatikan  dan mempraktekkan metode pendidikan ini.

Mengapa Manhaj Rabbani?

Sesungguhnya pendidikan dengan manhaj Rabbani sumbernya dari Rabb, yaitu Allah. Tidak bersumber dari hawa nafsu manusia. Inilah yang membedakan dengan teori pendidikan yang ada saat ini, teori pendidikan yang bersumber dari hawa nafsu.

Manhaj Rabbani ini akan menjadikan manusia menghadapkan wajahnya kepada Rabb yang satu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Menjadikan orientasi hidupnya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Manhaj ini bersandar kepada perintah dan larangan kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya Muhammad SAW dan menjadikan niatnya ikhlas karena Allah. Hal ini dikarenakan merealisasikan friman Allah:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An’am: 162)

Adapun dari segi target dan tujuan pendidikan dengan manhaj Rabbani adalah menjadikan seorang anak didik hidup sesuai dengan aturan Islami. Semua perkataan maupun perbuatannya hanya untuk mengharap ridha Allah. Karena manhaj Rabbani hanya bersandar kepada manhaj Allah. Yang demikian karena merealisasikan perintah Allah:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al An’am: 153)

Manhaj Rabbani  akan mengaitkan kehidupan seorang muslim dengan Rabb-nya. Misalnya akan mengaitkan iman dengan mencintai karena Allah. Di antara caranya adalah dengan menyebarkan salam. Karena Rasulullah bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Apakah kalian mau saya tunjukkan kepada sesuatu, apabila kalian melakukannya akan menjadikan kaian saling mencintai? Sebar salam di antara kalian.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Manhaj Rabbani akan menjadikan seorang anak didik bergaul dengan kedua orang tuanya dengan akhlaq yang mulia. Hal ini sebagai bentuk dari ketaatan kepada Rabb. Karena Rabb (Allah) berfirman:

۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ …. ٢٣

 “Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (Al Isra’: 23)

Selain itu Manhaj Rabbani juga akan menjadikan mereka berbuat baik secara umum. Karena Allah berfirman:

وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al Baqarah: 195)

Manhaj Rabbani akan menjadikan anak didik bersikap adil dan amanah. Karena Rabb, yaitu Allah memerintahkan kedua sifat tersebut dengan firman-Nya:

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ  …. ٥٨

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (An Nisaa’: 58)

Manhaj Rabbani juga akan menjadikan anak didik memiliki akhlaq yang baik dan mulia. Dengan begitu akan terbentuk masyarakat yang dipenuhi dengan keadilan, amanah, keikhlasan, iffah (menjaga kehormatan) dan semua akhlak yang mulia. Demikian pula pendidikan dengan manhaj ini akan membersihkan masyarakat dari perbuatan keji yang menghilangkan kemaslahatan dan mencerai-beraikan masyarakat. Allah berfirman:

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raf: 33)

Demikian metode pendidikan yang telah terbukti melahirkan generasi unggul. Generasi yang paling lurus akidahnya, paling benar ibadahnya dan paling baik akhlaknya. Maka tidak ada cara lain untuk mencetak generasi kecuali dengan mengikuti Rasulullah dalam mendidik para shahabatnya. Yaitu mendidik generasi dengan manhaj rabbani. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Yazid Abu Fida’

Baca Juga

AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG ANAK

    Ibarat masakan tanpa garam kurang lengkap rasanya bila pasangan suami isteri tak dikaruniai ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami