Home / Tarbiyyah / MENGUKUR KESUKSESAN PENDIDIKAN KITA

MENGUKUR KESUKSESAN PENDIDIKAN KITA

Mengukur Kualitas Pendidikan

                Kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang pelajar SMP, Yuyun (14 tahun) warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu oleh sekelompok pemuda bulan April 2016 menyedot perhatian publik Nasional dan menyisakan trauma panjang bagi keluarga serta masyarakat. Betapa tidak, para pelaku yang masih berusia di bawah 20 tahun itu, notabenya adalah para pelajar. Ironisnya para pelaku tak menunjukkan rasa penyesalan sedikitpun. Bahkan mereka tertawa-tawa  saat di sel penjara.

Kasus di atas menambah daftar panjang bobroknya moral dan akhlak banyak generasi muda negeri ini. Sekaligus menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Betapa pendidikan di negeri ini belum mampu mencapai hasil yang diharapkan. Ribuan lembaga pendidikan  yang didirikan rupanya belum memadai bila dibandingkan dengan beratnya tantangan yang harus dihadapi. Kian hari dekadensi moral generasi kita semakin tak terbendung.

Bukan bermaksud menyudutkan para pengemban amanah pendidikan di negeri ini, tetapi disadari atau tidak memang banyak faktor yang harus dievaluasi. Realita yang ada di depan kita sebenarnya hanyalah  akumulasi dari sekian  banyak kerusakan multi dimensional yang telah berurat dan berakar di negeri ini sejak masa penjajahan. Salah satu yang barangkali perlu dievaluasi adalah visi dan misi pendidikan itu sendiri. Sebab visi dan misi akan menentukan cara dan langkah yang akan ditempuh. Sekaligus akan menjadi tolok ukur kualitas out put  pendidikan. Tak sedikit lembaga pendidikan yang hanya berorientasi profit atau gelar akademik. Akibatnya banyak  peserta didik yang hanya mengejar materi semata.

Islam yang sempurna dan paripurna sesungguhnya telah menawarkan solusi jitu bagi persoalan-persoalan di atas. Dengan visi dan misi yang jelas  serta didukung oleh fakta sejarah yang ada, Islam telah membuktikan bahwa di tangan Pendidik terbaiknya (Nabi Muhammad n )  telah lahir generasi terbaik yang tiada duanya, Jielun Faried (generasi yang unik). Begitu menurut Pemikir Islam besar abad ini, Sayyid Qutub t dalam karya monumentalnya,  Ma’alim fit Thaarieq (Rambu-rambu perjalanan). Apa sajakah visi sekaligus tolok ukur keberhasilan pendidikan menurut Islam?.  Mari kita kaji.

Meraih Kecintaan dan Keridhaan Allah.

Meraih keridhaaan Allah l  harusnya menjadi hal terbesar bagi setiap muslim. Sebab ialah anugerah terbesar bagi seorang hamba di duni dan akhirat. Allah l berfirman:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”  (QS At-Taubah: 72)

Dari abu Sa’id Al Khudry bahwasanya Nabi  bersabda:

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، وَالخَيْرُ في يَديْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : يا رب وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً )) . متفق عليه

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berkata kepada ahlul jannah: “Hai, ahlu jannah?” lalu mereka menjawab: “Kami menyambut seruan-Mu ya Rabb kami dan kami bahagia dengan panggilan-Mu.” Lalu Alloh berfirman: “Apakah kallian merasa puas?” Lalu mereka menjawab: “Bagaimana kami tidak merasa puas, bahkan Engkau telah memberikan kepada kami apa yang belum Engkau berikan kepada seorangpun dari makhlukMu.” Lalu Dia berfirman: “Maukah Aku berikan sesuatu yang lebih baik dari itu semua?” Mereka menjawab: “Wahai Rabbku, apa ada sesuatu yang lebih baik dari itu?” Maka Dia berfirman: “Aku halalkan keridhaan-Ku lalu Aku tidak pernah murka atas kamu setelah itu selama-lamanya.” (HR. Muslim 2827)

Ridha Allah adalah kenikmatan dan anugerah Allah yang paling agung. Ia akan menjadi kunci pintu-pintu seluruh kebaikan. Al-Fudhail bin ‘Iyadh t berkata, “Siapa yang takut kepada Allah , rasa takut itu akan menunjukkannya kepada setiap kebaikan” (Ihya’ Ulumiddin, VI/76)

Ia akan menjadi kontrol personal terbaik, seberat apapun tantangan yang dihadapi maka itu bernilai kecil di hadapan ridha Allah. Sehebat apapun dunia yang digapai tak menjadikan seseorang lupa diri.

Sebaliknya pendidikan yang tak mengorientasikan peserta didiknya untuk selalu meraih ridha Allah, akan melahirkan manusia-manusia kerdil. Manusia yang mudah silau dengan gemerlapnya dunia. Rela mengahalalkan segala cara demi secarik ijazah atau sederet gelar mentereng atau segepok rupiah.

Mewarisi Pedoman Kenabian

Apabila Ridha Allah  adalah tujuan akhir maka pedoman kenabian (sunnah Rasul n) adalah adalah kompas dan peta yang akan mengarahkan seseorang menuju ridha Allah n .

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Tanpa pedoman kenabian manusia bagai orang yang masuk rimba raya, yang tersesat karena tanpa kompas dan peta.

Hari ini banyak manusia yang berharap ridha Allah tapi menempuh cara sendiri dan mengabaikan petunjuk Nabi n .  Banyak manusia pada hari ini secara sadar maupun tak sadar telah dipaksa untuk mengikuti petunjuk-petunjuk lain sebagai ganti dari pedoman Rasulullah n. Krisis multi dimensional yang menerjang hampir seluruh dunia hari ini tiada lain karena banyak manusia yang berpaling kepada isme-isme destruktif  seperti sekulerisme, demokrasi, liberaisme dan lain sebagainya serta meninggalkan pedoman Rasulullah n. Allah l telah mengingatkan hal ini:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur : 62).

Oleh karena itu tiba saatnya pendidikan Islam untuk tampil dan serius dalam menanamkan kecintaan para peserta didiknya  terhadap Nabi n dan sunnahnya.

Membebaskan Diri Dari Penghambaan Kepada Dunia.

Allah  berfirman mengisahkan di dalam Al-Qur’an do’a dan nadzar Hannah binti Faqudz (Isteri Imran, ibunda Maryam) tatkala mengandung Maryam:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi seorang muharrar. Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS Ali Imran: 35).

Di dalam ayat itu Hannah bercita-cita agar kelak bayi yang dikandungnya  menjadi ‘muharrar’. Apa itu muharrar? Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Al-Imam Jalaludin Al-Mahally menjelaskan dalam tafsir mereka bahwa muharrar adalah orang yang membebaskan diri dari kesibukan dunia untuk mengabdi, beribadah kepada Allah l di Baitul Maqdis. (Tafsir Jalalain hal: 335)

Luar biasa, sebuah cita-cita yang sepatutnya menjadi cita-cita para pendidik dan lembaga pendidikan hari ini, yaitu bagaimana para peserta didik dapat menjadi manusia merdeka sepenuhnya dengan hanya mengabdi kepada Allah dan membebaskan diri dari kungkungan dunia laksana seorang pendeta yang telah mentalak tiga dunia. Mengenai kependetaan seperti ini  Rasulullah n bersabda:

لِكُلِّ أُمٍّة رَهْبَانِيَةٌ وَ رَهْبَانِيَّةُ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Setiap umat memeiliki kependetaan dan kependetaan umat ini adalah jihad fie sabililillah.” (HR. Abu Ya’la ).

Sudah bukan waktunya pendidikan hanya melahirkan para pekerja berorientasi dunia. Sudah tiba waktunya pendidikan melahirkan manusia-manusia langit yang tetap berpijak bumi. Sebab dunia hanya sarana semata.

Memanfaatkan Ilmu Bagi Kemakmuran Dunia.

Bila ilmu pengetahuan dan teknologi dikelola oleh orang-orang yang tak mengenal Allah, tak mewarisi sistem hidup yang digariskan Rasululah n  maka yang terjadi adalah kerusakan demi kerusakan. Sebaliknya  ilmu pengetahuan dan teknologi  dimiliki oleh orang-orang yang lurus orientasi hidup dan sistem kehidupannya maka keberkahan dan kebaikan dunia ini akan melimpah dan dirasakan oleh seluruh lapisan manusia. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96)

Ibnul Qayyim t mengatakan: “Barangsiapa memperhatikan kondisi alam, ia akan dapati bahwa segala kebaikan di dunia ini bersumber dari Tauhidullah (mengesakan Allah), beribadah kepada-Nya dan menaati Rasul-Nya. Sebaliknya malapetaka, kekeringan dan bencana alam serta berkuasanya musuh atas umat Islam adalah buah dari  menyalahi Allah dan Rasul-Nya”  (Bada’iul Fawaid hal. 395).

Berpijak dari apa yang disampaikan Ibnul Qayyim t di atas, para pendidik dan  lembaga pendidikan manapun, setelah membekali peserta didiknya dengan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya harus betul-betul membekali peserta didik mereka dengan  ilmu yang bermanfaat bagi seluruh makhluk. Hingga tujuan Allah mencitakan manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin yang memakmurkan bumi dengan aturan Allah) akan segera terwuhud. Amien.

Penulis: Ustadz Syahidan Sulthoni, S.Psi

Editor: Yazdi Abu Fida’

Baca Juga

ANAK SHALIH, SIAPA DULU BAPAKNYA??

Rasanya tidak ada satupun orang tua di dunia ini yang tak ingin dikaruniai anak-anak yang ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

Telah Dibuka! Pendaftaran Santri Baru Gelombang Pertama Tahun Pelajaran 2018/2019!Klik Di Sini!!!