Home / Tsaqafah / ROXELANA SI ULAR BERBISA

ROXELANA SI ULAR BERBISA

Roxelana si Ular Berbisa

“Sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh syetan”, kata Mary Tudor, “Dapat dilakukan oleh seorang wanita.” Sungguh, sangat menarik untuk direnungi apa yang diungkapkan oleh istri Louis XII dari Perancis ini. Betapa pun lihainya godaan syetan yang halus dalam menipu daya umat manusia, tetapi dalam batas tertentu, ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ‘bakat’ alami yang ada pada diri tiap-tiap wanita.

Di balik tabiat gemulai yang terbungkus dalam jasad yang lemah lembut, tersimpan satu aura yang dapat membutakan akal sehat kaum Adam. Bahkan, sejarah mencatat, hancurnya sebuah tatanan adidaya, bermula dari bisikan-bisikan jahat seorang wanita yang menjadi akar keruntuhan sebuah negara.

 

Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyah atau dalam bahasa Inggris biasa disebut Ottoman Empire, adalah nama yang menyejarah tentang kebesaran dan kebanggaan umat Islam. Berabad-abad lamanya, kepemimpinan Turki Utsmani yang agung ini, begitu disegani dan semua bangsa pun tertunduk patuh di bawah kekusaannya. Tetapi, tepat pada tanggal 23 Maret 1924, kekhalifahan Utsmaniyah, secara de jure dan de facto, tidak bisa lagi menaungi dunia. Sejak saat itu hingga hari ini, hegemoni sistem sekuler yang menggantikannya, masih belum bisa dilenyapkan. Dan ternyata, meski sulit dipercaya, keruntuhan Utsaminyah, tidak terlepas dari peranan seorang wanita.

Kisah kelabu yang menyisakan jejak hitam di keindahan lembaran-lembaran sejarah Utsmaniyah ini, berawal ketika muslim Tartar di Krimea memenangkan pertempuran melawan Rusia. Mereka menawan seorang wanita yang bagus rupa bernama Roxelana. Kemudian, gadis jelita penuh pesona ini, dihadiahkan kepada Sulthan Sulaiman Al-Qanuni. Dan sungguh luar biasa. Seumpama mentari yang kehadirannya menyingkirkan bintang-bintang penghias malam, pamor Roxelana mengalahkan permaisuri sulthan. Bahkan, dalam waktu singkat, karirnya pun melejit.

Ya, boleh dikata, kisah perjalanan Roxelana yang semula hanya wanita berstatus budak tawanan perang, kemudian masuk ke dalam istana yang megah, lalu memenangkan hati orang nomor satu di kerajaan. Hampir-hampir mirip dengan cerita Gi Seun Nyang dalam serial Empress Ki; tawanan Goryeo yang dipersembahkan kepada Kekaisaran Yuan, menjadi musuri, naik pangkat menjadi selir agung, menjabat sebagai permaisuri, dan puncaknya; mengendalikan titah raja di balik layar.

Jika dipelajari, di mata seorang lelaki, Roxelana memang sosok wanita idaman. Tidak hanya cantik, tapi ia juga ratu gombal yang sangat romantis; layaknya pujangga yang ahli merangkai kata-kata puitis;

“Wahai Tuanku, kepergianmu dari sisiku, telah menyalakan api rindu yang tak dapat dipadamkan. Kasihanilah jiwa yang tersiksa ini dan bergegaslah untuk menyelematkannya. Karena sesungguhnya, telah kutemukan sesuatu yang dapat meringankan deritaku, yaitu ketika engkau membaca untaian kalimatku, kemudian engkau pun menulis untukku ungkapan rindu yang lebih banyak.”

Demikianlah beberapa kutipan surat yang dikirim Roxelana kepada Sulthan Sulaiman Al-Qanuni yang semakin menguatkan jalinan kasih antara keduanya. Kecintaan Sulaiman pun semakin mendalam. Hurrem Hessaki Sulthan, adalah julukan utama bagi Roxelana. Maka wajar kiranya jika Mahidevran, permaisuri sang sulthan, pada akhirnya tak kuasa menyembunyikan kecemburuan karena terlalu muak melihat sikap sulthan yang mengistri emaskan seorang budak. Sedangkan dirinya, seolah dilupakan begitu saja. Betapa bencinya Mahidevran sehingga ia terlibat dalam kontak fisik dengan Roxelana. Mendengar Hurremnya dipukuli, Sulaiman marah besar; mengusir pergi Mahidrevan untuk tinggal di Edirne.

Kini, sempurna sudah dominasi dan ruang gerak Roxelana di dalam istana. Posisinya sebagai lakon teraniaya, menggabungkan rasa cinta sekaligus iba dalam hati Al-Qanuni. Maka, selain mendapat gelar Hurrem yang menjadi panggilan kehormatan bagi Roxelana, ia juga berhasil memengaruhi kebijakan sulthan. Beberapa di antaranya sangat fatal dan menjadi keretakan benteng pertahanan Daulah Utsmaniyah. Di kemudian hari, setelah sekian lama berkapilaritas melalui celah yang dibuat Roxelana ini. Musuh-musuh Islam semakin mulus melancarkan rencana mereka. Perlahan tapi pasti, roda kekhilafahan Turki Utsmani, menggilinding dan terus berputar menuju kehancuran.

Selain berhasil memengaruhi sulthan untuk mengusir orang-orang Yahudi di Andalusia dan diperbolehkan bertempat tinggal di seantero Daulah Utsmaniyah, dicegahnya pasukan Tartar Krimea untuk tidak memerangi Rusia, juga karena bujuk rayu Roxelana. Padahal, Rusia ketika itu melakukan berbagai tindakan kriminal dan memerangi Islam secara terang-terangan.

Dua contoh dominasi Hurrem Sulthan ini tidaklah seberapa. Masih ada lagi satu bisikan jahatnya yang kemudian menjadi blunder bagi eksistensi Daulah Utsmaniyah, yaitu; putra mahkota yang amat dicintai warga, panglima muda yang tangguh lagi gagah perkasa, pangeran Sehzade Mushtafa, anak sang sulthan dari Mahidrevan yang dipuja penduduk Anatolia, dieksekusi mati karena tuduhan hendak memberontak negara. Fitnah keji itu, bersumber dari Rustem Pasha dan Roxelana.

Parahnya lagi, tidak puas dengan terbunuhnya Mushtafa, Roxelana membunuh putra Mushtafa yang masih menyusui. Pantaslah kiranya jika tim riset dan studi Islam Mesir, dalam Al-Mausu’ah Al-Muyassarah fii At-Taarikh Al-Islami, menjuluki Hurrem Sutlhan dengan sebutan; Roxelana Si Ular Berbisa.

 

Penulis : M Faishal Fadhli a.k.a Ichang Stranger

Editor   : Yazid Abu Fida’

Baca Juga

ISLAM MEMANUSIAKAN JAWA 

Jawa pra Islam Sebelum Islam hadir mewarnai bumi khatulistiwa ini, Nusantara wa bil khusus tanah ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami