Home / Tarbiyah / TANAMKAN MURAQABATULLAH

TANAMKAN MURAQABATULLAH

Muroqobah

 TUMBUHKAN KESADARAN MENUJU FITROH

Pendidikan Pesantren hari ini menjadi solusi bagi para orang tua yang memiliki kesadaran tentang kondisi. Jika kita melihat fenomena akhlak dan ibadah para remaja muslim hari ini sangat menyedihkan. Banyak fakta yang bisa kita saksikan. Akhlak yang buruk. Minum-munuman keras. Interaksi dengan lawan jenis, bahkan sampai tingkatan zina, narkoba dan narkotika, berbicara kotor, berbohong, berkata kasar kepada orang tua, berfoya-foya dalam hidup, dan banyak fenomena lain tak henti-hentinya selalu terjadi.

Dari fenomena yang merebak inilah para orang tua banyak yang menghawatirkan akan nasib anak-anak mereka kelak, jika tidak segera diselamatkan dengan pendidikan dan lingkungan Islami. Lingkungan dan pendidikan yang akan membentuk syakhsiyah muslimah yang baik.

Syaikh Shalih bin Fauzan menjelaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini terlahir dalam kondisi fitroh. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar Rum : 30 :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168]”.

Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Dan sabda Rasulullah ﷺ yang artinya:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari & Muslim)

Fitroh yang lurus yang Allah karuniakan kepada setiap manusia ini adalah satu satu dari 3 foktor yang mendorong atau memotifasi mereka untuk berbuat baik. Artinya jika fitroh manusia masih lurus niscaya ia akan terbimbing menuju kebaikan. Karena secara fitroh manusia, mereka tidak menyukai perzinaan, kemaksiaatan, kejahatan, kebohongan, dan keburukan-keburukan yang lain.

Tetapi jika fitroh ini sudah melenceng dari jalan yang lurus atau telah terkontaminasi dan ternodai, maka ia tidak lagi mampu mengarahkan pemiliknya menuju kebaikan-kebaikan, sehingga ia lebih suka untuk berbuat keburukan.

Apa sebetulnya yang merubah fitroh manusia ini?? ada dua faktor utama yang merubah fitroh manusia :

Pertama adalah Bi’ah Sayyi’ah (lingkungan yang buruk), dan yang Kedua adalah Tarbiyyah Munharifah (pendidikan yang menyeleweng). Jika seorang anak tinggal dilingkungan yang buruk maka lama-kelamaan dan lambat laun akhlaknya akan melenceng, demikian pula jika ia disekolahkan di lembaga pendidikan yang menyeleweng pasti akan merubah dan mempengaruhi fitrohnya. 

Bila Kenyataan Tak Sesuai Harapan

Tidak salah jika para orang tua mulai memilih pesantren yang bermanhajkan salaf, yang memiliki tarbiyah yang lurus serta lingkungan yang kondusif dalam rangka menjaga fitroh putra putrinya. Sehingga mereka tetap terjaga dalam akhlak yang mulia, ibadah yang shohihah, serta aqidah yang lurus.

Tetapi bagaimana jika kondisi berbalik dan tidak sesuai dengan harapan ?? artinya, ternyata meskipun sudah disekolahkan di pesantren ada beberapa orang tua yang mengeluhkan anaknya. Yang ibadahnya belum beres, akhlaknya kurang baik, dan larut dengan dunia luar.

Ternyata pendidikan pondok tidak serta merta menjadikan anak baik. Terlebih yang dahulu sejak kecil terkungkung dalam pendidikan pesantren. Anak akan merasakan keguncangan yang luar biasa. Meskipun ada sebagian yang berhasil. Anak akan mengalami kebosanan, kejenuhan dengan dunia yang seperti ini. Dunia yang streril dari kemaksiatan sehingga barangkali hal ini akan menyebabkan daya imun anak kurang kuat. Setelah lulus dari pesantren mereka menghadapi banyak hal-hal baru yang belum pernah mereka rasakan selama pendidikan di pesantren, sehingga mereka memiliki rasa penasaran untuk melakukannya. Wallahu a’lam.

Bagaimana Solusinya?

Jika orang tua dalam kondisi yang seperti ini? Apakah langkah yang harus ditempuh untuk meminimalisir kondisi tersebut? Apakah kemudian membenci dan mengecam sistem pendidikan pondok dan memasukkan mereka ke pendidikan umum?

Sesungguhnya pendidikan, tarbiyah, dan pembinaan anak tidak akan berhasil jika tidak ada tolong menolong, kerjasama, dan bahu membahu antara pihak orang tua dan lembaga pendidikan. Saling menyadari tugas dan kewajiban masing-masing. Tidak selayaknya orang tua pasrah bongkokan dengan menyerahkan pendidikan anaknya secara total kepada lembaga. Tanpa kontrol dan pemantauan.

Di antara cara yang bisa ditempuh untuk mengarahkan kembali anak-anak kita menuju fitrahnya yang lurus adalah menanamkan Muraqabatullah

Muroqobatullah adalah merasa selalu diawasi oleh Allah. Yaitu seorang muslim melatih jiwanya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah, dan mengawasinya dalam setiap detik-detik kehidupan. Sehingga keyakinannya benar-benar menjadi sempurna bahwa Allah selalu mengawasinya, mengetahui rahasia-rahasianya, mengawasi perbuatannya, memberikan perhitungan kepadanya dan pada setiap jiwa atas apa yang telah dikerjakannya. Allah berfirman:

يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَيَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ٤

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (At Taghabun: 4)

Dengan cara seperti itu, seorang muslim akan selalu memperhatikan kebesaran dan kesempurnaan Allah, merasakan kenikmatan dalam berdzikir kepada-Nya, mengaharapkan untuk berada di samping-Nya, menghadapkan diri kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Inilah makna menyerahkan diri dalam firman Allah :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”.(QS. An Nisa’ : 125)

Senantiasa memiliki sifat muraqabah. merasa berada dalam pengawasan Allah kapan saja dan di mana saja. Sifat ini akan membuahkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup seorang muslim. Sifat ini akan menjadikan seorang muslim hebat. Karena sifat ini akan membawa manusia kepada kebaikan. Menjauhkannya dari keburukan.

Sifat ini akan menjadikan seorang muslim berfikir dan berusaha untuk tampil dalam pandangan Allah sebagai seorang muslim yang taat dan semangat dalam beribadah. Menjadikan seorang muslim tidak pernah rela tampil dihadapan Allah dalam kondisi bermaksiat. Sifat ini akan menjadikan seorang muslim berusaha berada dalam koridor syar’ie yang diridhoi. Menjadikan seorang muslim selalu berada di atas rel yang telah Allah tetapkan. Menjadikan seorang muslim selalu berusaha meningkatkan amal dan kualitas diri dan amalnya. Sebagaimana seorang karyawan yang 24 jam selalu diawasi dan dipelototi oleh bosnya. Pasti ia akan melakukan yang demikian.

Allah berfirman :

“Kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Yunus : 61)

Sifat muraqabah juga akan menjadikan seorang muslim selalu ikhlas dalam beramal dan bekerja. Meskipun manusia tidak melihat, menyepelekan, bahkan tidak menganggap pekerjaannya. Tapi sifat muraqabah akan menjadikan ia yakin Allah melihat, mengawasi, dan akan memberikan balasan yang lebih baik.  Tidak mudah memang untuk memiliki sifat ini. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Marilah kita berusaha melatih dan membiasakan diri ini dengan sifat muraqabah. Sehingga menjadi pola dan karakter hidup seorang muslim yang hebat.  Wallahu a’lam bish shawaab.

 

Penulis: Ustadz Taufiqurrahman

Editor: Yazid Abu Fida’

Baca Juga

AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG ANAK

    Ibarat masakan tanpa garam kurang lengkap rasanya bila pasangan suami isteri tak dikaruniai ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami