Home / Tsaqafah / TITAH SANG NABI

TITAH SANG NABI

Menelisik Maslahat dan Manfaat dari Keteguhan terhadap Syariat.

Beratus ratus abad Islam berjaya menguasai bumi, berpendar cahaya keadilannya mengayomi dan menghangatkan relung hati insani, apapun agama yg di anuti, apapun nama dan jenis suku bangsa yg dimiliki.

Salah satu rahasianya adalah karena kaum muslimin senantiasa cinta dan meneladani sunnah Nabi. Kekaguman berbalut ketertakjuban akan hadir di hati, manakala membuka lembaran sejarah yang menjelaskan kegandrungan sahabat terhadap Nabi, ketaatan dan patuh sepenuh hati.

Tersebutlah salah satunya, Abdullah bin Umar yang disebutkan dalam kitab karya Syaikh Ibnu Baththah (916-997 M) yang berjudul Al Ibanah, menukil dari riwayat Shahih Al Bukhary bahwa beliau (Abdullah Ibnu Umar, putra Umar bin Khaththab) senantiasa mengikuti Nabi dan sunnahnya. Bahkan dalam ‘atsaar’ bekas-bekas jejak langkah Nabi yang pernah ia lihat. Mengikuti Nabi hingga dalam perkara-perkara yang tidak disunnahkan, seperti meniru tempat-tempat persinggahan yang biasa di singgahi oleh Nabi dalam safar dan lain-lain.

Luar biasa, begitu patuhnya para sahabat dalam menaati setiap perintah dan larangan Nabi. Pantas saja, mereka mampu menggenggam dunia, meluas kejayaannya membentang sepanjang timur dan barat.

Adapun hari ini, mungkin banyak kaum muslimin yang meninggalkan ajaran Islam. Atau bahkan tidak tahu sama sekali akan sunah-sunah Nabi. Bagaimana tata cara makan yang sesuai Islam, tata cara berpakaian, apa aturan Nabi dalam berpolitik, mengatur negara dan bagaimana dalam hal apapun. Padahal semuanya telah tersedia, all in one all in Islam.

Bukankah Al Quran adalah diturunkan untuk menjadi pedoman, rule of life?

Namun, kondisi kaum muslimin yang terpuruk dari segala sisi hari ini dikarenakan kebodohan dan keengganan mereka untuk meneladani sang Nabi, acuh terhadap perintah ilahi.

Lihatlah, sejarah telah mengabadikan akan hal ini. Perang uhud, kaum muslimin tersudutkan dan nabi pun terluka parah. Ya, kaum muslimin yang tadinya hampir saja meraih kemenangan, berbalik 180 derajat menjadi terjerembab dalam hinanya kekalahan.

Apa sebabnya, what is the main cause? Tidak ada hal lain kecuali karena pembangkangan terhadap satu saja titah, dari ratusan titah sang nabi yakni;

 إِنَّا لَنْ نَزَالَ غَالِبِيْنَ مَا ثَبَتُّمْ مَكَانَكُمْ!

“Kita akan unggul dan memenangkan pertempuran uhud ini, jika kalian (para pasukan pemanah) tetap stand dalam posisi kalian ini!.” (Fath Al Bary Syarh Shahih Al Bukhary)

فَلَا تَبْرَحُوْا مِنْ مَكَانِكُمْ حَتَّى آمُرَكُمْ

“Janganlah kalian (pasukan pemanah) meninggalkan tempat kalian (sebuah bukit di dekat gunung uhud) tanpa adanya perintah dariku.” (Shahih Al Bukhary, Kitab Maghazi)

Para sejarawan menjelaskan bahwa kekalahan yang tiba-tiba menampar wajah pasukan muslim di perang Uhud adalah karena para pasukan pemanah yang jumlahnya sekitar 50 an orang itu melupakan satu saja perintah Nabi. Perintah untuk tetap berjaga di posisinya. Mereka tergiur oleh harta-harta yang ditinggalkan begitu saja oleh Musyrikin, berupa emas, pedang, baju zirah, kuda-kuda Arab yang harganya ratusan juta. Satu saja titah Nabi dilanggar. Petir kehinaan dan kekalahan menyambar nyambar.

Lalu, bagaimana kondisi kaum muslimin hari ini yang meninggalkan ratusan sunnah dan ajaran nabi. Atau bahkan sama sekali tak tahu menahu akan ajaran Islam itu sendiri.

Sebab Kekalahan Kaum Muslimin di Andalusia

Titah sang Nabi

Gambar di atas adalah perayaan nasional Spanyol yang membawa bendera perang kaum muslimin Muwahhidin (Almohads) Andalusia, pada tanggal 20 Juli setiap tahunnya. Mereka senantiasa mengusung panji perang kaum muslimin yang telah berhasil mereka kalahkan dan mereka enyahkan dari Spanyol agar bisa mengingat, tetap melekatkan itu dalam memori mereka.

فَالْإِسْبَانُ لَا يَنْسُوْنَ

هُمْ يَحْتَفِلُوْنَ بِهَزِيْمَتِنَا .. وَنَحْنُ نَحْتَفِلُ بِإِنْتِصَارَاتِ البَارْسَا وَمَدْرِيْدِ

Spanyol setiap tahunnya merayakan kekalahan muslim Andalusia. Adapun hari ini kaum muslimin justru masih saja merayakan kemenangan ‘Barca’ dan ‘Madridista’.

Kekalahan kaum muslimin bangsa Muwahhidin Andalusia dalam perang yang terjadi pada tanggal 16 Juli 1212 M yakni perang ‘Las Navas de Tolosa’ di Jaén (مدينة جيان) tempat kelahiran pengarang kitab Alfiyyah yakni Imam Malik menyebabkan runtuhnya hukum islam di Andalusia.

DR Raghib As Sirjani berkata:

فَإِنَّ مَعْرَكَةُ الْعُقَابِ كَانَتْ فَاتِحَةَ الْاِنْهِيَارِ الشَّامِلِ لِقَوَاعِدِ الْأَنْدَلُسِ الْكُبْرَى.

“Sesungguhnya perang Al Uqab (Las Navas de Tolosa) telah menjadi bidak pertama yg menyebabkan kekalahan berurutan setelahnya hingga pada akhirnya kaum muslimin tak tersisa.”

Para ulama menyebutkan bahwa sebab kekalahan dan hancurnya Islam di Andalusia adalah tersebarnya maksiat, berpecah belah dan kaum muslimin meninggalkan ajaran Islam. Jauh dari Al Quran dan ajaran sunnah Nabi.

Al Quran dan Sunnah nabi, kunci kekalahan dan kemenangan kaum muslimin.
____________________________
Penulis : Akbar Fachreza (Ezza Ibnu Hazm Al Ghafiqee)

Editor    : Yazid Abu Fida’

 

 

Baca Juga

ISLAM MEMANUSIAKAN JAWA 

Jawa pra Islam Sebelum Islam hadir mewarnai bumi khatulistiwa ini, Nusantara wa bil khusus tanah ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

In sya Alloh Pendaftaran Santri Baru 2019/2020 akan dibuka 1 Desember 2018 !Klik di Sini
+ +