Ketika orang gila disiksa; kaki dan tangannya diikat. Apabila ia berteriak akan dihujani dengan cambukan yang menyakitkan, kira-kira siapa yang gila jika fenomena seperti ini terjadi? Orang yang menyiksa atau yang disiksa?
Percaya atau tidak, seperti itulah perlakuan orang-orang Eropa kepada orang gila sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya “Qishatul’ Uluum Ath-Thibbiyyah fiil Hadharah Al-Islamiyah”. Mereka menganggap bahwa gila adalah penyakit syaithoni sehingga orang gila tidak diperlakukan layaknya manusia; dianggap sebagai musuh yang kerjaannya hanya mengusik dan mengganggu.
Menurut beliau, kaum musliminlah yang pertama kali menjelaskan bahwa gila adalah penyakit jiwa yang perlu penanganan khusus. Mereka membangun rumah sakit yang besar untuk mengobati orang-orang yang sakit, baik sakit fisiknya atau sakit jiwanya. Pengobatan kaum muslimin ketika itu tidak terbatas hanya mengobati jasad dan fisik, tetapi juga mengobati gangguan jiwa yang menyebabkan datangnya penyakit. Ar-Rozi menyebutkan bahwa penyakit yang menyerang organ tubuh manusia, adalah hasil dari gangguan jiwa. Contohnya adalah arthistik rematik; peradangan kronis pada sendi yang menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan tangan).
Ditulis oleh: M. Faishal Fadhli
Editor        : Yazid Abu Fida’